Rabu, 01 Juni 2011

Nafs, Ruh, dan Akal

Nafsu, Ruh, dan Akal
*Terjemahan dr Ihya’ Ulumudin vol. 4
Ketahuilah bahwa nama-nama yang empat ini dipakai pada bab-bab ini dan sedikit dalam kalangan tokoh para ulama’, orang yang mengetahui nama-nama itu, perbedaan artinya, batas,batasannya dan apa yang diberi nama itu.
Dan kebanyakan kesalahan-kesalahan itu timbulnya adalah kebodohan tentang arti nama-nama ini dan persekutuannya antara apa-apa yang diberi nama dengan nama-nama yang berbeda-beda
Kami akan menjelaskan dalam arti nama-nama ini apa yang berkitan dengan maksud kami, yaitu:
1. Perkataan yang pertama: perkataan hati dan hati itu dikatakan secara umum dengan dua arti, yaitu:
a. Hati dengan arti daging yang berbentuk buah shanaubar yang di letakkan pada sebelah kiri dari dada. Yaitu: daging yang khusus, dan di dalamnya ada lubang, dan di dalam lubang itu ada darah yang hitam yang menjadi sumber ruh dan tambangnya.
Dan kami tidak bermaksud sekarang menjelaskan bentuk hati, dan caranya karena hal itu berkaitan dengan maksud dokter-dokter dan tidak berkaitan dengan maksud–maksud agama. Dan hati ini ada pada binatang-binatang, bahkan ada pada orang yang mati. Dan kami apabila mengatakan perkataan hati secara umum dalam kitab ini, maka kami tidak kami maksudkan dengan hati yang demikian. Karena hati itu adalah sepotong daging yang tidak ada kemulyaan baginya dan hati itu termasuk alam mulki dan alam musyahadah karena binatang dapat mengetahuinya dengan panca indra penglihatan, lebih-lebih manusia.
b. Hati dengan arti sesuatu yang halus, Rabbaniyah (ketuhanan), ruhaniyah (kerohanian). Dia mempunyai kaitan dengan hati yang jasmani (yang bertubuh) ini.
Hati yang halus itulah hakekat manusia. Dialah yang mengetahui, yang mengerti dan yang mengenal dari manusia. Dialah yang diajak bicara, yang disiksa, yang dicela dan dituntut.
Dan hati yang halus itu mempunyai kaitan dengan hati yang jasmani, dan akal kebanyakan makhluk bingung dalam mengetahui segi kaitannya. Sesungguhnya kaitannya dengan hati yang jasmani itu menyerupai kaitannya perangai-perangai yang terpuji dengan tubuh, dan sifat-sifat dengan yang disifati atau kaitannya orang yang memakai alat dengan alatnya atau kaitannya orang yang bertampat dengan tempatnya.
Dan menjelaskan demikian ini termasuk apa yang kami hindari karena dua pengertian:
1) Bahwa hal itu berkaitan dengan ilmu-ilmu mukasyafah dan tidaklah maksud kami di dalam kitab ini kecuali ilmu-ilmu mi’amalah.
2) Bahwa mencari hakekatnya itu membawa kepada penyiaran rahasia ruh. Dan demikian itu termasuk apa yang tidak dibicarakan oleh Rasulullah saw. Maka tidaklah bagi orang lain untuk membicarakannya.
Yang dimaksud apabila kami mengatakan perkataan hati secara umum di dalam kitab ini, maka kami maksudkan hati yang halus. Dan maksud kami adalah menyebutkan sifat-sifatnya dan keadaan-keadaannya, tidak menyebutkan hakekatnya pada dzatnya. Dan ilmu mu’amalah itu memerlukan kepada mengetahui sifat-sifatnya dan keadaan-keadaannya, tidak memerlukan kepada menyebutkan hakekatnya.

2. Ruh (nyawa) dan ruh itu juga dikatakan secara umum mengenai apa yang berkaitan dengan jenis maksud kami karena dua arti itu:
a. Tubuh yang halus sumbernya adalah lubang hati yang jasmani, lalu tersebar dengan perantara urat-urat yang merusak kebagian-bagian badan yang lain. Dan perjalanannya ruh pada badan, banjirnya cahaya-cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman dari padanya atas semua anggotanya itu menyerupai banjirnya cahaya dari lampu yang diputar di sudut-sudut rumah. Sesungguhnya cahaya itu tidak sampai ke suatu bagian rumah melainkan ia bersinar dengan cahaya itu.
Kehidupan itu perumpamaannya adalah seperti cahaya yang berhasil pada tembok-tembok. Dan nyawa itu perumpamaannya seperti lampu. Dan berjalannya ruh atau gerakannya pada batin adalah seperti gerakan lampu pada sudut-sudut rumah dengan digakkan oleh penggeraknya. Para dokter apabila mengatakan perkataan ruh secara umum, maka mereka maksudkan arti ini yaitu: apa yang halus yang dimasakkan oleh panasnya hati, dan menjelaskannya itu tidak termasuk maksud kami karena yang berkaitan dengannya adalah maksud para dokter yang mengobati tubuh.
Adapun maksud para dokter agama yang mengobati hati sehingga rindu ke sisi Tuhan alam semesta adalah tidak berkaitan dengan penjelasan ruh ini sama sekali.
b. Yang halus dari manusia yang mengerti lagi yang mengetahui dari manusia, dan itulah yang kami jelaskan mengenai salah satu arti hati dan itulah yang dikehendaki oleh Allah ta’ala dengan firmannya: قل الروح من امر ربى( الاسراء 85)
Artinya : “katakanlah: “ruh itu termasuk urusan tuhanku.”(Al-isro’ 85)
Ruh adalah urusan yang mengherankan, rabbani (ketuhanan) yang melemahkan kebanyakan akal-akal dan kefahaman-kefahaman dari mengetahui hakikatnya.

3. Nafsu
Nafsu itu juga bersekutu diantar arti-arti, dan berkaitan dengan maksud kami dari pada nafsu itu dua arti, yaitu:
a. Bahwa yang dimaksud dengannya adalah arti yang menghimpun kekuatan, marah dan nafsu syahwat pada manusia sebagaimana akan dating penjelasannya.
Dan pemakaian ini adalah yang biasa menurut para ahli tasawuf karena sesungguhnya mereka maksudakan dengan nafsu adalah pokok yang menghimpun sifat-sifat yang tercela dari manusia, lalu mereka mengatakan bahwa tidak boleh tidak melawan nafsu (hawa nafsu) dan memecahkannya dan kepadanya diisyaratkan dengan sabda Rasulullah SAW:
اعد يعدوك نفسك التى بين جنبيك
Artinya: “paling berat musuhmu adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu”
b. Yang halus yang telah kami sebutkan dimana pada hakekatnya ialah manusia yaitu: diri manusia dan dzatnya. Tetapi nafsu itu disifati dengan sifat-sifat yang bermacam-macam menurut keadaannya.
Apabila nafsu itu tenang dibawah perintah dan keguncangan berpisah daripadanya disebabkan menentang nafsu syahwat maka disebut dengan nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang).
Allah Ta’ala berfirman tentang contohnya:
يا ايتها النفس المطمئنة. ارجعي الى ربك راضية مرضية (ا لفجر : 27-28)
Artinya : “Hai jiwa yang tenang! kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridloinya.” (Al-fajar : 27-28)
Nafsu dengan arti yang pertama itu tidak dapat digambarkan kembelinya kepada Allah ta’ala. Sesungguhnya dia itu menjauh dari Allah dan dia adalah tentara Syaiton.
Dan apabila tidak sempurna ketenangannya, tetapi dia menjadi pendorong bagi nafsu-syahwat dan penentang atasnya, maka disebut nafsu lawwamah karena dia mencaci pemiliknya. Ketika ia teledor dalam beribbadah kepada tuhannya.
Allah ta’ala berfirman: ولا اقسم با النفس اللوامة ( القيامة : 2 )

Artinya :”dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (Al-qiyamah:2)
Kalau nafsu itu meninggalkan tantangan, tunduk dan taat kepada tuntutan nafsu-syahwat dan dorongan-dorongan syaiton, maka dinamakan nafsu amarah (yang mendorong) kepada kejahatan. Allah ta’ala berfirman untuk menceritakan tentang yusuf as. Atau istri Al-aziz:
وما ابرئ نفسي ان النفس لأمارة بالسوء ( يوسف : 53 )
Artinya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Yusuf : 53)
Kadang-kadang boleh dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “selalu menyuruh kepada kejahatan” adalah nafsu dengan arti yang pertama.
Jadi, nafsu dengan arti yang pertama adalah sangat tercela dan dengan arti yang kedua adalah terpuji karena dia adalah diri manusia yakni dzatnya dan hakekatnya yang mengerti Allah ta’ala dan pengetahuan-pengetahuan lainnya.

4. Akal.
Dia juga bersekutu bagi arti-arti yang bermacam-macam yang telah kami sebutkan pada kitab ilmu. Dan yang berkaitan dengan maksud kami dari sejumlah arti-artinya adalah dua arti, yaitu:
a. Bahwa akal itu kadang-kadang dikatakan secara umum da dimaksidkan dengannya adalah ilmu (pengetahuan) tentang hakekat-hakekat perkara. Maka akal adalah ibarat dari sifat ilmu yang tempatnya adalah hati.
b. Bahwa akal kadang-kadang dilkatakan secara umum dan dimaksudkan dengannya adalah yang mengetahui ilmu-ilmu yaitu: hati yakni: hati yang halus.
Dan kita mngetahui bahwa sitiap orang alim, maka ia mempunyai wujud (ada) dalam dirinya, dan ilmu itu sifat padanya, dan sifat itu bukan yang disifati. Dan akal itu kadang-kadang dikatakan dan dimaksudkan adalah sifat orang alim itu, dan kadang-kadang dikatakan secara umum dan dimaksudkan dengannya adalah tempat memperoleh ilmu yakni: yang mengetahui. Dan itulah yang dimaksud dengan hadis Rasulullah saw : اول ما خلق الله العقل
Artinya : “pertama yang diciptakan oleh Allah adalah akal.”
Sesungguhnya ilmu itu sifat yang tidak dapat digambarkan bahwa dia itu mahluk yang pertama, tetapi tidak boleh tidak bahwa tempat itu diciptakan sebelum ilmu atau bersama ilnu dan karena tidak mungkin khitab (pembicaraan) kepada ilmu. Dalam hadits disebutkan bahwa Allah ta’ala berfirman kepada akal: “menghadaplah” lalu ia menghadap, kemudian Allah Ta’ala berfirman kepadanya : “membelakanglah” lalu ia membelakang…….sampai ahir hadits.
Jadi, telah tersingkap bagi kita bahwa arti-arti nama-nama ini ada yaitu: hati jasmani, ruh jasmani, nafsu-syahwat dan ilmu-ilmu.
Maka inilah empat arti yang dikatakan secara umum oleh empat perkataan tersebut. Dan arti yang kelima adalah yang halus yang mengerti yang mengetahui dari manusia. Dari empat perkataan itu secara keseluruhannya itu berlaku pemakaiannya atas yang halus itu.
Maka arti itu lima dan perkataan itu empat dan setiap perkataan itu dikatakan umum kepada dua arti. Dan kebanyakan ulama’ telah samar bagi mereka perbedaan perkataan-perkataan ini dan berlakunya pemakaiannya. Maka kamu melihat mereka membicarakan tentang gurisan-gurisan dan mereka berkata: “ini goresan akal, ini goresan ruh, ini goresan hati dan ini goresan jiwa. Dan orang yang memperhatikan tidak mengetahui perbedaan arti nama-nama ini.
Dan untuk menyingkap tutup dari demikian itu, maka kami dahulukan penjelasan nama-nama itu.
Manakala disebutkan dalam Al-qur’an dan sunnah perbedaan hati, maka yang dimaksud adalah arti yang dimengerti dari manusia dan yang mengetahui hakekat sesuatu dan kadang-kadang diartikan secara kinayah dengan hati yang di duga. Karena diantara yang halus dan jisim hati ada kaitan yang khusus.
Sesungguhnya yang halus walaupun berkaitan dengan seluruh badan dan dipakai baginya, tetapi ia berkaitan dengannya melalui perantara hati. Maka kaitannya yang pertama adalah hati. Solah-olah hati itu tempatnya yang halus itu, kerajaannya, alamnya dan kendaraannya.
Karena itulah Sahl At-Tusturi menyerupakan hati dengan arsy (singgasana), dan dada dengan kursi dan ia berkata: “hati itu adalah arsy (singgasana) dan dada itu adalah kursi”
Dan tidak diduga dengan perkataannya bahwa dia berpendapat bahwa itu adalah arsy Allah dan kursi-NYA. Karena demikian itu mustahil. Tetapi ia maksudkan dengannya bahwa hati adalah kerajaannya dan saluran yang pertama untuk mengaturnya dan mmelakukannya.
Maka keduanya (hati dan dada) dikaitkan dengan manusia adalah seperti arsy dan kursi dikaitkan dengan Allah Ta’ala. Dan penyerupaan ini tidak dapat lurus kecuali dari sebagian segi. Dan penjelasan demikian juga tidak patut dengan maksud kami. Maka hendaklah kita lampauinya.