Di setiap tetesan ni'mat yang kita rasakan, ada baiknya jika kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak untuk merasakannya ......
Jumat, 11 Januari 2013
Menggenggam Waktu Meraih Prestasi
“Fa izhaa faraghta fanshab. Wa ilaa Rabbika farghab.!”(Q.S. Al-Insyirah: 7-8)
Apakah yang menjadi resep yang teramat jitu para Sahabat Nabi yang menjadi bala tentara Islam ketika itu, sehingga mereka mampu menaklukkan dua imperium adidaya Romawi dan Persia? Bukankah kedua imperiam itu sudah sangat dikenal dalam sejarah, bala tentaranya amat kuat dan perkaa, baik dari segi jumlah, profesionalitas, strategi, maupun dukungan dananya?
Rahasianya ternyata tersimpul dari pengakuan penuh kekaguman seorang anggota dinas intelijen Romawi, setelah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah. Kepada Kaisar Romawi ia mengutarakan kesannya tentang watak kaum Muslimin. “Ruhbaanun billaili, firsaanun binnahar”, ungkapnya dengan penuh kekaguman. Yaaa, mereka kaum Muslimin itu kalau malam, tidak ubahnya seperti rahib, adapun tatkala siang menjelang, mereka bagaikan singa yang garang. Betapa tidak! Umat Islam ketika itu mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang sangat luar biasa, sehingga menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa pula.
Bagi hamba Allah yang unggul dalam hal ibadah kepada Allah, di dalam kalbunya telah tertanam keyakinan yang amat dahsyat bahwa Allah itu Maha Dekat. “Wa idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariib. Ujiibu da’watad-daa’I idzaa da’aan” (Q.S. Al-Baqarah: 186).
Yang menjadi pertanyaan sekarang, “bagaimana caranya untuk menjadi sosok pribadi Muslim yang unggul?”. Salah satu kunci utamanya adalah kemampuan untuk ‘menggenggam’ waktu.
Islam merupakan agama yang paling dominant mengingatkan para pemeluknya terhadap sang waktu. Allah sendiri telah berkali-kali ‘bersumpah’ dalam Al-Qur’an: “wal’ashri innal insaana lafii khusrin” (Q.S. al-‘Ashr: 1-2). “Wadldluhaa. Wallayli idzaa sajaa” (Q.S. Adl- Dluhaa: 1-2). “Wallayli idzaa yaghsyaa. Wannahaari idzaa tajallaa” (Q.S. Al- Layl: 1-2).
Allah pun telah mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu -minimal lima kali- dalam sehari semalam, yakni waktu Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan ‘Isya. Belum lagi tahajud pada sepertiga akhir malam dan shalat Dluha ketika matahari terbit sepenggalah. Allah mengingatkan hamba-Nya untuk selalu terkontrol dengan waktu yang ada.
Oleh sebab itu, bagi siapapun yang gemar menganggap remeh waktu, tampaknya tidaklah perlu bercita-cita setinggi langit. Ini karena kunci keunggulan seseorang itu justru terletak pada bagaimana ia mampu memanfaatkan waktu secara lebih baik daripada yang dimanfaatkan orang lain.
Barang siapa yang selalu ‘thamak’ dalam setiap waktu yang dilaluinya dengan upaya meningkatkan kemampuan diri, niscaya tidak usah heran kalau Allah akan memberikan yang terbaik bagi si pelakunya. Insya Allaah.
Sesungguhnya, yang terpenting itu bukan hanya keinginan, melainkan kemampuan untuk menggapainya. Itulah yang menjadi jawaban terbaik dalam mengarungi kehidupan ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar