Di setiap tetesan ni'mat yang kita rasakan, ada baiknya jika kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak untuk merasakannya ......
Jumat, 11 Januari 2013
Mengoptimalkan Potensi Akal
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-siia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Ali Imran: 190-191)
Rasulullah setiap menjelang Shubuh selalu membaca ayat tersebut, hingga berlinang air matanya.
Kalau kita belajar dari peradaban barat, mereka cepat untuk belajar. Perbandingan antara barat dan kita adalah mereka membaca untuk belajar, sedangkan kita belajar untuk membaca. (semoga semua menyadarinya, hehe…)
Seperti ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi “Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq”. Inilah perintah yang pertama, yaitu “membaca”. Ini sama seperti menyuruh kita untuk mengaktifkan elemen-elemen akal kita. Kebanyakan dari kita malas untuk mebaca. Sementara membaca adalah pangkal dari penerapan akal kita agar bias berjalan secara optimal dan menghasilkan wawasan yang luas.
Akibat dari malas membaca adalah kurang ilmu, sementara membaca adalah jendelanya ilmu. Maka, jika ingin luas wawasannya, harus selalu rajin membaca. “Tiada hari tanpa membaca”.Selain membaca,ada cara yang lain untuk mengembangkan akal kita, yaitu menyimak. Dengan mendengarkan, menyimak, memahami, kita telah mendapatkan ilmu juga. Mendengarkan, memperhatikan gerak-gerik, tutur kata orang lain itu bisa dijadikan ilmu buat kita. Setelah membaca dan menyimak, bergaul pun bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan akal karunia Allah. Bergaul dengan orang pintar, akan mempengaruhi kita juga, karena wawasan setiap orang tergantung pada pergaulannya.
Kalau saja kita mau terus menerus mengerahkan kemampuan pikiran kita, niscaya hidup ini tidak sesulit yang kita duga. Banyak sekali jalan keluar yang telah disiapkan Allah atas apa pun yang kita hadapi. Sayangnya, sebagian besar orang tidak mau berpikir dengan baik.
Sebagian ahli mengatakan bahwa manusia memiliki kemalasan untuk berpikir. Bahkan dating suatu masalah, ia cenderung untuk mengambil jalan pintas yang gampang untuk menghindar. Padahal, otak ini tak ubahnya seperti pisau. Semakin diasah, akan semakin tajam. Jika sudah tajam, niscaya bisa memotong bahan yang sangat keras sekalipun. Semakin tajam akal pikiran, maka kita akan semakin mapu menerjemah apapun yang terkandung di balik kejadian hiup ini.
Dan Alhamdulillah, saat ini kita masih diberi kesehatan, kekuatan oleh Allah untuk dapat selalu mengisi ruhani kita, sehingga kita bisa dengan rajin mendatangi majlis ta’lim, bahkan mengakaji kitabullah. Akan tetapi, itu saja tidak cukup, karena ada satu perangkat lain yang juga harus diberi “makan”. Dialah akal pikiran. Banyak berdzikir tanpa disertai dengan banyak berpikir, bisa membuat kita memahami kebenaran hanya sepihak saja.
Kalau kita bertanya tentang bagaimana mengenal Allah, maka Dia telah menyiapkan kita perangkat Bantu untuk mengenal-Nya, yaitu dengan akal pikiran yang kita miliki.
Begitu bertaburan di dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang mempertanyakan seberapa mampu kita menggunakan akal pikiran…
“afalaa tatafakkaruun? Afalaa yatafakkaruun?”
Wallaahu a’lam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar