Siapa yang tak kenal dengan bulan Sya’ban? Bulan di mana Rasulullah memperbanyak puasa, sementara kaum muslimin mempersiapkan diri, lahir dan bathin menyongsong bulan suci Ramadlan. Karena menurut Rasulullah, pahala ibadah di bulan Sya’ban, yang oleh kaum sufi ahli hikmah disebut sebagai bulan untuk membersihkan hati dan jiwa, dilipat gandakan oleh Allah.
Bulan Sya’ban memang bulan ampunan. Menurut Rasulullah, di malam nishfu Sya’ban Allah “menjenguk” para hamba-Nya, lalu Dia mengampuni dosa mereka. Kecuali dua golongan, yakni kaum musyrikin dan para pendendam. Bulan itu disebut Sya’ban, di antaranya adalah karena bulan itu termasuk bulan mulia yang muncul (sya’aba) di antara bulan Rajab dan Ramadlan.
Sementara menurut Imam Ghazali dalam Makasyiful Qulub, dinamakan Sya’ban karena bulan tersebut memiliki beberapa kebaikan. Kata “asy-syi’bi” diartikan sebagai jalan kebaikan. Sya’ban juga disebut sebagai “bulan Rasulullah”, karena ketik tepat pada tanggal 15 Sya’ban tahun 2 Hijriyah, atas petunjuk Allah, Rasulullah bermunajat di komplek makan Jannatul Baqi’, Madinah. Ketika itu, demikian dikisahkan, sementara bercengkrama dengan istri tercinta; Sayyidah Aisyah, tiba-tiba Rasulullah pergi begitu saja. Maka Aisyah pun mencari sang suami ke rumah istri yang lain. Namun beliau tidak ditemukan. Dalam perjalanan pulang, ia melewati Jannatul Baqi’ dan melihat sang suami sedang bersujud. Samar-samar ia mendengar suara lirih Rasulullah memohon ampunan kepada Allah bagi para syuhada’ dan kaum mukmin.
“Demi ayah dan ibuku, sungguh aku telah berprasangka buruk. Ternyata kekasihku sedang dalam keadaan sangat membutuhkan pertolongan Sang pencipta, sementara akudalam keadaan membutuhkan dunia…”, kata Aisyah dalam hati sembari menangis. Ia pun bergegas pulang, dan tak lama kemudian Rasululah pun dating.
Melihat Aisyah termangu sedih, Rasul pun bertanya: “ada apa denganmu, wahai Humaira?”, kemudian Aisyah pun menjawab: “demi ayah dan inuku, wahai kekasihku… Ketika kita tengah bercumbu, mendadak engkau pergi. Aku cemburu dan mengira engkau menemui istrimu yang lain. Lalu aku melihat engkau sedang bersujud di Baqi”
“istriku tersayang, engkau khawatir Allah dan Rasul-Nya akan mengkhianatimu? Ketahuilah, ketika itu Jibril datang dan berkata ‘Ini adalah malam nishfu Sya’ban, malam ketika Allah memerdekakan orang-orang dari api neraka. Di mala mini, Allah tidak melihat orang-orang musyrik, orang yang bermusuhan, orang yang memanjangkan baju hingga menyentuh tanah (sombong), orang durhaka kepada orang tua, dan orang yang selalu minum minuman keras.’ Maka izinkanlah aku, wahai istriku, untuk shalat pada malam ini”, kata Rasulullah sambil memandang Aisyah dengan mesra. Dengan ikhlash, Aisyah pun menjawab: “silahkan, wahai utusan Allah…”
Kemudian Rasulullah pun menunaikan shalat dan melakukan sujud sangat lama, sehingga Aisyah mengira sang suami telah wafat. Karena khawatir, ia lalu menyentuh telapak kaki Rasulullah, yang ternyata terasa hangat dan bergerak-gerak hingga hatinya pun lega dan tenang.
Dalam sujudnya, Rasulullah berdo’a: “aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung dengan ridla dari murka-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dengan keagungan-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu seperti Engkau memuji diri-Mu sendiri”
Menjelang pagi, Aisyah bergegas menemui istri-istri Rasulullah yang lain, lalu menceritakan kejadian tersebut. Siang harinya, Rasulullah bertanya kepada Aisyah: “wahai Humaira, benarkah engkau telah member tahu mereka apa yang aku lakukan pada malam nishfu Sya’ban?”
Jawab Aisyah: “ya, saya member tahu mereka”
Lalu Rasulullah bersabda: “ajarkanlah kepada mereka, karena Jibril memerintahkan aku untuk mengajarkannya kepada mereka”