Sabtu, 01 Juni 2013

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak; ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Akan tetapi, suatu ketika datanglah bencana badai yang mengempas pulau itu. Air laut tiba-tiba naik dan menenggelamkan pulau tersebut. Semua penghuni mencoba menyelamatkan dirinya. Cinta terlihat kebingungan karena ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin meninggi membasahi kaki Cinta. Tak lama kemudian Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. “Wahai Kekayaan, tolonglah aku!” teriak Cinta. “Aduh, maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu ikut serta, nanti perahu ini bisa karam”, jawab Kekayaan. Kemudian Kekayaan mengayuh perahunya cepat-cepat pergi. Cinta sangat sedih melihatnya. Lalu ia melihat Kegembiraan lewat dengan perahunya dan Cinta pun meminta tolong padanya. Akan tetapi, Kegembiraan terlalu gembira sehingga tidak dapat mendengar teriakan Cinta. Air pun makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Cinta semakin panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan. “Kecantikan, bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta. “Aduh, Cinta... Maaf, kamu basah dan kotor. Aku tidak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang sangat indah dan aku banggakan ini.” Sahut Kecantikan. Cinta pun sedih mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah sedang lewat Kesedihan. “Oh... Syukur dirimu lewat, Kesedihan. Bawalah aku dalam perahumu!”, kata Cinta “Maaf, Cinta... Aku sedang bersedih dan sedang ingin sendirian saja.” Kata Kesedihan dengan pilu. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamannya. Pada saat genting itulahtiba-tiba terdengar suara, “Wahai, Cinta! Ayo naik ke perahuku!” Cinta menoleh mencari arah suara itu dan dia hanya melihat perahu dan orang tua di dalamnya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu tersebut, tepat sebelum air menenggelamkannya. Akhirnya, sampailah di pulau terdekat dan orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta tersadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa gerangan orang tua baik hati tadi. Tidak lama, Cinta menanyakan hal tersebut kepada seorang penduduk di pulau itu. “Oh... Orang tua itu adalah Sang Waktu”, kata orang tersebut. “Tetapi, mengapa ia menolongku? Bahkan aku tak mengenalnya. Teman-teman terdekatku pun malah tidak menolongku”. Ungkap Cinta heran. “Sebab.....”, kata orang itu melanjutkan “hanya Waktu-lah yang tahu seberapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu.....”

Tidak ada komentar: