Di setiap tetesan ni'mat yang kita rasakan, ada baiknya jika kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak untuk merasakannya ......
Sabtu, 01 Juni 2013
Setitik Harapan
Hidup ini tidak bisa ditimbang dengan perasaan, sebab dengan pertimbangan perasaan, kita hanya dibawa hanyut dan larut dalam kesedihan, yang akhirnya mengahncurkan diri sendiri dalam penderitaan.
Ya… kadang kala kita saja yang menghancurkan diri kita sendiri, bukan orang lain. Karena, kita terbius dengan harapan semu yang kesemuanay itu Cuma khayalan. Memang, untuk memulai suatu yang baru itu sulit. Tapi, seandainya kita mau berubah, apa saja akan bisa kita lakukan, karena hati kiat bukanlah batu. Kalau batu saja bisa tembus oleh tetesan air yang selalu tabah menitik di atasnya, mengapa kita tak mampu berubah? Padahal ini bukan suatu hal yang sulit, Cuma mungkin ego kita saja yang menolaknya. Bukankah begitu?
“jangan kamu taruh harapanmu pada manusia, karena kau akan kecewa. Taruhlah harapanmu pada Tuhan, agar kau terselamatkan”, begitulah kira-kira kata jalaluddin Rumi.
Hati itu sendiri membutuhkan Allah, oleh karena itu, hati tidak akan menjadi baik, tidak akan berbahagia, tidak akan merasakan keni’matan, kegembiraan, kelezatan, kesenangan, ketenangan dan ketentraman, kecuali dengan beribadah dan mencintai Rabb-nya serta kembali kepada-Nya. Dengan cara itulah, hati akan merasakan kegembiraan, kesenangan, kelezatan, keni’matan, dan ketentraman. Seperti halnya yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah: “bahwa setiap kali hati bertambah cinta kepada Allah, bertambah pula ubudiyah hati kepada-Nya, akan bertambah kecintaan hati kepada-Nya, dan akan mengutamakan-Nya ketimbang apapun”.
Kita pasti tau, bahwa kita itu milik Allah, dan adanya dunia ini, hanya sebagai tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang abadi. Mari, kita ingat kembali pesan-pesan dari Luqman Al-Hakim : “Wahai Anakku, sesungguhnya manusia itu terdiri dari dari 3 bagian: sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya, dan sisanya untuk ulat dan cacing. Bagian pertama, yang akan kembali pada Allah dan ruhnya. Bagian kedua, yang kembali menjadi miliknya sendiri adalah amalnya. Bagian ketiga, yang akan menjadi santapan ulat dan cacing adalah jasadnya. Maka, kenalilah siapa dirimu, niscaya kamu akan kenal siapa Tuhanmu! Terakhir, beningkan hatimu, jauhkan fitnah dan prasangka, serta sibukkan diri untuk mengurus aibmu sendiri!”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar