Di setiap tetesan ni'mat yang kita rasakan, ada baiknya jika kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak untuk merasakannya ......
Sabtu, 01 Juni 2013
Hadiah dan Penderitaan
“semoga segala peristiwa yang ku alami akan membuat diriku semakin dewasa dan memberikan pengalaman berharga untukku”. (Al- Mutanabbi)
Sering kali kita mengukur keadilan dan taqdir Allah dengan keinginan diri kita sendiri. Pastilah pada saat itu, keinginan kita akan mengahdapi rasa frustasi. Tak ada satupun ketentuan Allah yang seratus persen dapat dipahami oleh keinginan kita, persis seperti mengukur banyaknya air laut yang terlepas dan tak terwadahi. Meski demikian, masih saja ada orang yang percaya diri bahwa ilmunya dapat menghakimi ketentuan Allah, akibatnya dia mengalami rasa putus asa dan bersedih. Padahal Allah telah menyatakan “jangan putus asa dari rahmat Allah!”.
Berusahalah untuk tidak memelihara kebencian; kebencian dan kemarahan adalah api yang membakar diri sendiri. Sungguh, memelihara kemarahan berarti menganiaya diri sendiri. “dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An- Nisa' [4]: 110)
Kesalah pahaman kita terhadap penderitaan membuat kehidupan kita bertambah runyam. Alkisah, ada seseorang yang sangat membenci penderitaan melihat sesuatu yang aneh di sebuah pohon. Ada kepompong yang bergerak-gerak, “apakah itu?”. Ternyata secara perlahan ada gerakan lembut dari kupu-kupu yang hendak keluar dari kepompong itu. Rupanya ini saat kelahiran setelah mendekam lama di dalam sleeping bag alami itu.
Calon kupu-kupu itu tampak susah payah, tubuhnya yang masih lemah harus berjuang membuka kulit kepompong yang cukup keras. Sesekali calon kupu-kupu itu berhenti sejenak, seperti merasakan kesakitan atau sedang mengumpulkan tenaga agar bisa menerobos keluar dari kepompong.
Sahabat kita yang sangat baik dan menentang semua jenis penderitaan ini merasa iba. Dia ingin menolong bayi kupu-kupu itu untuk segera keluar dari kepompong. Dia lalu mengambil gunting dan mengiris permukaan kepompong itu dengan hati-hati. Alhamdulillah, bayi kupu-kupu itu kini tak lagi harus menggunakan tenaganya untuk keluardari kepompong. Semua permukaan kepompong telah dikupasnya. “Kini terbanglah!” ujarnya.
Apa yang terjadi? Bayi kupu-kupu itu tak bisa terbang. Bahkan setelah ia tunggui sekian lama, bayi kupu-kupu itu tetap tak bisa terbang. Rupanya sahabat kita ini salah duga. Kesusahan yang dialami bayi kupu-kupu pada saat melahirkan diri adalah cara dia menguatkan sayap-sayapnya, sedangkan gerakan yang terhenti dari kupu-kupu adalah cara dia menyesuaikan diri dengan udara luar. Begitulah proses yang penuh dengan penderitaan itu dipercepat, kipu-kupu itu menjadi cacat. Otot-otot sayapnya tak kuat untuk terbang dan tubuhnya tak bisa menahan udara alam yang sangat dingin.
Sesungguhnya hadiah penderitaan bagi bayi kupu-kupu adalah kemampuan terbang dan warna-warni yang indah. Jika ia tidak mau menderita, ia tetaplah ulat yang cacat serta aneh.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar