Sabtu, 01 Juni 2013

Kisah Islamnya Bilal bin Rabbah

Siapa yang tak kenal Bilal Al-Habsyi, seorang sahabat yang masyhur? Ia muadzin tetap masjid Nabawi. Semula ia seorang budak milik seorang kafir, yaitu Umayyah bin Khalaf, kemudian ia memeluk Islam yang menyebabkannya banyak menerima berbagai siksaan. Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang snagt memusuhi Islam. Ia membaringkan Bilal di atas padang pasir di siang hari yang sangat panas di bawah terik matahari sambil meletakkan batu besar di dadanya, sehingga Bilal tidak bisa bergerak. Lalu dia berkata kepadanya: “Apakah kamu siap mati seperti ini atau tetap hidup dengan syarat kamu meninggalkan Islam?”. Dalm keadaan seperti itu, Bilal hanya berkata: “Ahad! Ahad! (hanya satu yang berhak disembah)” Malam hari, ia dirantai dan dicambuk terus-menerus sehingga badannya penuh luka. Esok harinya, denganluka itu ia dijemur kembali di padang pasir yang panas sehingga lukanya semakin parah. Tuannya berharap, ia akan meninggalkan Islam atau menggelepar mati. Orang yang menyiksa Bilal sampai keletihan, sehingga perlu bergantian. Kadang kala Abu jahal, Umayyah bin Khalaf, dan terkadang orang lain. Setiap orang berusaha meenyiksanya sekuat tenaga. Ketika Sayyidina Abu Bakar melihat penderitaan Bilal, dia membeli Bilal dan memerdekakannya. Orang-orang musyrik menjadikan berhala sebagai sesembahan, sedangkan islam mengajarkan tauhid. Inilah yang mnyebabkan lisan Bilal selalu terucap: “Ahad! Ahad!”. Hal itu karena hubungan dan cintanya yang tinggi terhadap Allah SWT. Dalam cinta dunia yang palsu pun, ketika kita melihat seseorang yang mencintai seseorang tentu akan merasa nikmat jika menyebut nama orang yang dicintainya. Kadang kala, tanpa tujuan yang jelas namanya akan disebut-sebut. Lalu, bagaimana dengan cinta kepada Allah SWT yang mendatangkan kesuksesan dunia akhirat? Karena cintanya kepada Allah, Bilal didera dengan segala siksaan. Ia diserahkan kepada anak–anak Makkah untuk diarak di lorong-lorong. Akan tetapi, dari bibirnya selalu terucap: “Ahad! Ahad!”. Dengan pengorbanannya itu, dia mendapat kehormatan sebagai muadzin Rasulullah, baik ketika tinggal di Madinah maupun dalam perjalanan. Setelah Nabi wafat, dia tinggal di Madina untuk beberapa lama. Akan tetapi, katrena melihatt Nabi sudah tidak ada di tempat, sulit baginya untuk terus tinggal di madinah. Oleh karena itu, ia berniat menghabiskan sisa hidupnya untuk berjihad di Syam. Dia pun berangkat berjihad dan beberapa lama tidak kembali ke Madinah. Suatu ketika ia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Belia bersabda: “Wahai Bilal, masihkah kamu setia kepadaku? Mengapa kamu tidak pernah menziarahiku?”. Begitu bangun, ia segera pergi ke Madinah. Setibanya di sana, Hasan dan Husain memintanya untuk mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan kedua cucu Nabi – orang yang sangat dicintainya itu. Dia pun mulai adzan. Tatkala suara adzan seperti pada masa hidup Rasulullah sampai di telinga penduduk Madinah, semua menjadi gempar. Para wanita pun menangis dan keluar dari rumah mereka. Setelah tinggal beberapa hari di Madinah, ia pun kembali ke Syam. Menjelang tahun 20 H, ia wafat di Damaskus.

Tidak ada komentar: