Di setiap tetesan ni'mat yang kita rasakan, ada baiknya jika kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak untuk merasakannya ......
Sabtu, 01 Juni 2013
Muhasabah
Dalam beribadah kepada Allah Swt, kita harus senantiasa mengoreksi diri kita sendiri. Orang yang tidak mau melakukan introspeksi diri hidupnya akan selalu dibelenggu keinginan nafsunya, merasa dirinya paling benar, dan mudah menyalahkan orang lain.
Introspeksi diri (muhasabah) adalah mengoreksi atau mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat karena manusia itu tidak terlepas dari kesalahan. Tidak ada seorang pun yang selamanya benar atau terus salah, tetapi dia akan senantiasa berada di anatara keduanya. Artinya, pada suatu waktu, manusia bias benar, dan pada waktu yang lain, manusia bias salah. Rasulullah Saw bersabda: “Manusia itu tempat kesalahan dan lupa”.
Adapun ilmu yang dapat digunakan untuk sarana berintrospeksi diri ada dua macam, yaitu ilmu tauhid dan fiqih.
Pertama, introspeksi dengan tauhid digunakan sebagai cara untuk mengingat bahwa kejadian atau diadakan (ijad) dan ditiadakannya (i’dam) diri kita, tiada lain sebagai bukti kekeuasaan Allah, serta memberikan kesadaran bahwa kita ini dihidupkan, dimatikan, dan diberi ketrampilan oleh Allah. Kita diciptakan dengan sifat Al-Khaliq Allah sehingga meyakini bahwa setiap kejadian dan waktu ada dalam kekuasaan-Nya (qudrah).
Apabila kita memiliki perasaan sebagai penentu hidup kita sendiri dan menghilangkan qurah Allah, misalnya dengan menganggap segala sesuatu adalah hasil usaha dan ketrampilan sendiri, berarti kita telah berbuat kesalahan karena perasaan semacam itu termasuk ‘ujub.
Kedua, introspeksi dengan fiqih artinya tindakan dan perilaku kita harus dibimbing oleh hokum-hukum fiqih. Apakah tindakan (‘amaliyah) kita hukumnya wajib, sunah, makruh, atau haram? Jika kita melakukan perbuatan haram (melanggar larangan Allah), berarti kita telah berbuat kesalahan.
Selain kedua ilmu tersebut, kita pun harus memiliki modal untuk mengevaluasi diri, yaitu:
1. Membaca kalimat “laa haula wa laa quwwata illa billaah”.
2. Membaca “subhaanallaah”, Maha suci Allah yang telah menciptakan dan mengawasi kami, serta menyembuhkan kami dari segala penyakit. Hanya Engkaulah yang menghilangkan segala masalah yang kami hadapi.
Rosulullah bersabda: “Barang siapa membaca subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar (sebanyak) tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Membaca subhanallah tidak boleh sebatas diucapkan, tetapi harus diresapi dalam hati. Bacaan tersebut akan menjadi benih amal yang akan dituai kelak di akhirat.
Kalimat subhanallah mengandung pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki kehendak terhadap semua makhluk. Kalimat alhamdulillah adalah bentuk syukur kita kepada Allah atas segala anugrah-Nya, yaitu berupa keimanan, keIslaman, dan terjaga dari perbuatan maksiat. Sedangkan kalimat Allahu akbar mengakui bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Kuasa. Tidak ada satu pun dari makhluk yang besar mampu menandingi kebesaran-Nya. Apalagi kita, sebagai makhluk-Nya yang kecil, ibarat air yang sedikit di lautan, tidak berdaya untuk menunjukkan diri di hadapan kebesaran-Nya.
Orang yang sudah mampu melakukan introspeksi diri akan mendapatkan empat predikat, yaitu sebagai:
1. Ta’ib. Predikat ini disandang oleh seseorang yang berintrospeksi diri pada saat dia mengetahui dan menyadari kesalahannya, kemudian dia bertaubat dan tidak larut dalam kesalahannya tersebut.
2. Shabir. Predikat ini disandang pada saat seseorang menyadari bahwa musibah yang menimpa dirinya dating dari Allah sebagai bentuk peringatan atau teguran-Nya ketika orang tersebut berbuat kesalahan. Kesabaran lahir setelah seseorang benar-benar bertaubat kepada Allah.
3. Syakir. Disandang oleh orang yang meyakini bahwa meskipun dia berbuat salah, Allah tetap menyayanginya. Allah tidak menurunkan azab kepadanya seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, setelah dia bias bersabar dengan musibah, tertanamlah sikap syukur kepada Allah dalam diri orang yang berintrospeksi diri sehingga dia layak mendapat gelar syakir.
4. ‘Arif. Disandang setelah kesabaran dan sikap syukur terpenuhi karena keduanya termasuk dua di antara sifat yang dimiliki al-‘arif billah (‘arifin).
Namun, sebaliknya orang yang suka mengoreksi dan mencari kesalahan orang lain akan mendapatkan predikat:
1. Hasid (orang yang hasud), yaitu orang yang tidak senang melihat kesuksesan orang lain dan merasa puas ketika orang lain mendapat kecelakaan (penderitaan).
Orang yang berbuat hasud akan mendapatkan kerugian berupa:
• Dosa hasud itu akan kembali kepada dirinya sendiri.
• Kebaikan orang yang berbuat hasud akan diberikan kepada orang yang dihasud (mahsud).
2. Matakabbir (orang yang sombong), yaitu orang yang merasa dirinya paling benar, sedangkan orang lain selalu salah. Allah berfirman: “maka inilah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong” (Q.S. Al-Mukmin: 76)
3. Qaswah al-qulub (keras hati), yaitu orang yang tidak mau menerima nasihat dari orang lain, jauh dari ulama dan ajaran agama.
Oleh karena itu, jika ibadah kita ingin benar dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah, kita harus selalu berintrospeksi diri (ihtisab al-nafs), yaitu mengoreksi kesalahan sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain. Tentu, sekecil apapun kesalahan orang lain, maka ia akan selalu terlihat. Peribahasa mengatakan: “Kuman di seberang lautan tampak kelihatan, namun gajah di kelopak mata tidak kelihatan”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar