Di setiap tetesan ni'mat yang kita rasakan, ada baiknya jika kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak untuk merasakannya ......
Sabtu, 01 Juni 2013
Malas Baca sebagai Sensor
Sensor yang paling berbahaya atas karya para pengarang kreatif adalah rendahnya minat baca dalam masyarakat kita. Di satu sisi, anak-anak dan remaja dihimbau untuk meningkatkan kemampuan dan kemauan membaca,tetapi di sisi lain mereka juga disuguhi berbagai sarana hiburan yang menjadikan mereka lupa akan manfaat dan kegunaan membaca bagi kehidupan mereka. Contoh yang sangat gamblang yakni ketika kita berniat untuk browsing dengan alasan untuk menambah referensi tugas. Namun ketika itu, apa yang terjadi? Kita tergiur dengan membuka facebook. Walau niat awal ingin mengerjakan tugas, namun ketika muncul beberapa teman di kotak obrol, pasti tanpa sadar kita melakukan “tegur sapa” yang sebenarnya juga mengahabiskan waktu. Lalu, bagaimana dengan hasil browsing yang mau kita baca dan untuk menyelesaikan tugas??
Keprihatian akan rendahnya minat baca di kalangan remaja ini justru merupakan sensor yang paling ketat terhadap budaya menulis. Karena, apalah artinya penulis juka tak ada yang akan membaca bukunya? Dalam artian, proses sosialisasi ilmu pengetahuan harus berjalan melalui budaya baca-tulis itu, karena memang itulah cara transformasi pengetahuan yang paling dahsyat dan menyentuh berbagai khalayak.
Kaum muslim-misalnya- mengenal Al- Qur’an dan Hadits juga melalui tulisan, yakni melalui mushaf yang tertulis, dan melalui kitab-kitab hadits.
Secara tidak langsung keengganan untuk membaca merupakan sensor yang sangat efektif. Kita tidak bisa berharap banyak dari generasi yang enggan membaca. Baik membaca dalam artian “membaca tulisan” maupun “membaca alam” yang juga merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, karena ayat-ayat Allah bukan hanya yang tertulis di kitab suci saja (qauliy), namun juga ada ayat-ayat yang tercipta dalam bentuk alam dan seluruh isinya ini, termasuk diri kita (ayat kauniyyah). Kedua ayat ini memiliki hubungan timbale balik dan saling melengkapi: kita tidak bisa belajar hanya melalui teks tertulis tanpa menghiraukan segala yang terjadi dalam kehidupan nyata. Begitupun sebaliknya, kita pun tidak mungkin memahami realitas kehidupan nyata itu secara keseluruhan dan komprehensif. Dan karenanya, ayat-ayat tertulis setidaknya dapat membantu kita untuk lebih menyadari bahwa tidak ada manusia sempurna yang dapat mengetahui semuanya. Karena kesempurnaan, hanyalah milik Allah.
Cinta dan Waktu
Alkisah di suatu pulau, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak; ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.
Akan tetapi, suatu ketika datanglah bencana badai yang mengempas pulau itu. Air laut tiba-tiba naik dan menenggelamkan pulau tersebut. Semua penghuni mencoba menyelamatkan dirinya. Cinta terlihat kebingungan karena ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin meninggi membasahi kaki Cinta.
Tak lama kemudian Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
“Wahai Kekayaan, tolonglah aku!” teriak Cinta.
“Aduh, maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu ikut serta, nanti perahu ini bisa karam”, jawab Kekayaan.
Kemudian Kekayaan mengayuh perahunya cepat-cepat pergi. Cinta sangat sedih melihatnya. Lalu ia melihat Kegembiraan lewat dengan perahunya dan Cinta pun meminta tolong padanya. Akan tetapi, Kegembiraan terlalu gembira sehingga tidak dapat mendengar teriakan Cinta.
Air pun makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Cinta semakin panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan.
“Kecantikan, bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta.
“Aduh, Cinta... Maaf, kamu basah dan kotor. Aku tidak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang sangat indah dan aku banggakan ini.” Sahut Kecantikan.
Cinta pun sedih mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah sedang lewat Kesedihan.
“Oh... Syukur dirimu lewat, Kesedihan. Bawalah aku dalam perahumu!”, kata Cinta
“Maaf, Cinta... Aku sedang bersedih dan sedang ingin sendirian saja.” Kata Kesedihan dengan pilu. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamannya. Pada saat genting itulahtiba-tiba terdengar suara, “Wahai, Cinta! Ayo naik ke perahuku!”
Cinta menoleh mencari arah suara itu dan dia hanya melihat perahu dan orang tua di dalamnya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu tersebut, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Akhirnya, sampailah di pulau terdekat dan orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta tersadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa gerangan orang tua baik hati tadi. Tidak lama, Cinta menanyakan hal tersebut kepada seorang penduduk di pulau itu.
“Oh... Orang tua itu adalah Sang Waktu”, kata orang tersebut.
“Tetapi, mengapa ia menolongku? Bahkan aku tak mengenalnya. Teman-teman terdekatku pun malah tidak menolongku”. Ungkap Cinta heran.
“Sebab.....”, kata orang itu melanjutkan “hanya Waktu-lah yang tahu seberapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu.....”
Bunda, mengapa kau menangis???
Seorang anak bertanya kepada ibunya, “Ibu, mengapa ibu menangis?”
Ibunya pun menjawab, “sebab ibu adalah seorang wanita, Nak.” Anak itu pun tidak terlalu mengerti. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tidak akan pernah mengerti...”
Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa sebab yang aku mengerti?”
Sang Ayah pun menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh ayahnya.
Lalu waktu berjalan dan anak itu sudah tumbuh menjadi remaja dan terus bertanya-tanya mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis”
Dalam mimpinya, Tuhan menjawab;
“Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, termasuk membuat nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.”
Kalimat itu pun berlanjut...
“Kuberikan wanita kekuatan untuk melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya. Walau sering kali pula ia kerap berulang kali menerima cercaan dari anaknya.”
“Pada wanita Kuberikan kesabaran. Untuk merawat keluarganya walaupun letih, walau sakit, lelah, semua tanpa keluh kesah.”
“Kuberikan wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, di mana semua orang sudah putus asa.”
“Kuberikan pula wanita perasaan peka dan kasih sayang. Untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apa pun dan dalam situasi apa pun. Walau tak jarang juga anak-anaknya itu melukai perasaannya, juga melukai hatinya.”
“Perasaan ini pula yang akan memberikan kebahagiaan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.”
“Kuberikan wanita kekuatan untuk menemani dan membimbing suaminya melalui masa-masa sulit serta menjadikan pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuknya yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?”
“Ku berikan padanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk meberikan penyadaran dan pengertian, bahwa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai hati istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi”.
“Dan akhirnya, Ku berikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Ku berikan kepada wanita agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walau sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan.”
Ketika anak itu terbangun dari mimpinya, air matanya telah berurai membasahi muka. Anak itu teringat semua kebaikan tentang ibunya dan ia belum mengucapkan terimakasih secara sungguh-sungguh kepadanya.
Hadiah dan Penderitaan
“semoga segala peristiwa yang ku alami akan membuat diriku semakin dewasa dan memberikan pengalaman berharga untukku”. (Al- Mutanabbi)
Sering kali kita mengukur keadilan dan taqdir Allah dengan keinginan diri kita sendiri. Pastilah pada saat itu, keinginan kita akan mengahdapi rasa frustasi. Tak ada satupun ketentuan Allah yang seratus persen dapat dipahami oleh keinginan kita, persis seperti mengukur banyaknya air laut yang terlepas dan tak terwadahi. Meski demikian, masih saja ada orang yang percaya diri bahwa ilmunya dapat menghakimi ketentuan Allah, akibatnya dia mengalami rasa putus asa dan bersedih. Padahal Allah telah menyatakan “jangan putus asa dari rahmat Allah!”.
Berusahalah untuk tidak memelihara kebencian; kebencian dan kemarahan adalah api yang membakar diri sendiri. Sungguh, memelihara kemarahan berarti menganiaya diri sendiri. “dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An- Nisa' [4]: 110)
Kesalah pahaman kita terhadap penderitaan membuat kehidupan kita bertambah runyam. Alkisah, ada seseorang yang sangat membenci penderitaan melihat sesuatu yang aneh di sebuah pohon. Ada kepompong yang bergerak-gerak, “apakah itu?”. Ternyata secara perlahan ada gerakan lembut dari kupu-kupu yang hendak keluar dari kepompong itu. Rupanya ini saat kelahiran setelah mendekam lama di dalam sleeping bag alami itu.
Calon kupu-kupu itu tampak susah payah, tubuhnya yang masih lemah harus berjuang membuka kulit kepompong yang cukup keras. Sesekali calon kupu-kupu itu berhenti sejenak, seperti merasakan kesakitan atau sedang mengumpulkan tenaga agar bisa menerobos keluar dari kepompong.
Sahabat kita yang sangat baik dan menentang semua jenis penderitaan ini merasa iba. Dia ingin menolong bayi kupu-kupu itu untuk segera keluar dari kepompong. Dia lalu mengambil gunting dan mengiris permukaan kepompong itu dengan hati-hati. Alhamdulillah, bayi kupu-kupu itu kini tak lagi harus menggunakan tenaganya untuk keluardari kepompong. Semua permukaan kepompong telah dikupasnya. “Kini terbanglah!” ujarnya.
Apa yang terjadi? Bayi kupu-kupu itu tak bisa terbang. Bahkan setelah ia tunggui sekian lama, bayi kupu-kupu itu tetap tak bisa terbang. Rupanya sahabat kita ini salah duga. Kesusahan yang dialami bayi kupu-kupu pada saat melahirkan diri adalah cara dia menguatkan sayap-sayapnya, sedangkan gerakan yang terhenti dari kupu-kupu adalah cara dia menyesuaikan diri dengan udara luar. Begitulah proses yang penuh dengan penderitaan itu dipercepat, kipu-kupu itu menjadi cacat. Otot-otot sayapnya tak kuat untuk terbang dan tubuhnya tak bisa menahan udara alam yang sangat dingin.
Sesungguhnya hadiah penderitaan bagi bayi kupu-kupu adalah kemampuan terbang dan warna-warni yang indah. Jika ia tidak mau menderita, ia tetaplah ulat yang cacat serta aneh.
Setitik Harapan
Hidup ini tidak bisa ditimbang dengan perasaan, sebab dengan pertimbangan perasaan, kita hanya dibawa hanyut dan larut dalam kesedihan, yang akhirnya mengahncurkan diri sendiri dalam penderitaan.
Ya… kadang kala kita saja yang menghancurkan diri kita sendiri, bukan orang lain. Karena, kita terbius dengan harapan semu yang kesemuanay itu Cuma khayalan. Memang, untuk memulai suatu yang baru itu sulit. Tapi, seandainya kita mau berubah, apa saja akan bisa kita lakukan, karena hati kiat bukanlah batu. Kalau batu saja bisa tembus oleh tetesan air yang selalu tabah menitik di atasnya, mengapa kita tak mampu berubah? Padahal ini bukan suatu hal yang sulit, Cuma mungkin ego kita saja yang menolaknya. Bukankah begitu?
“jangan kamu taruh harapanmu pada manusia, karena kau akan kecewa. Taruhlah harapanmu pada Tuhan, agar kau terselamatkan”, begitulah kira-kira kata jalaluddin Rumi.
Hati itu sendiri membutuhkan Allah, oleh karena itu, hati tidak akan menjadi baik, tidak akan berbahagia, tidak akan merasakan keni’matan, kegembiraan, kelezatan, kesenangan, ketenangan dan ketentraman, kecuali dengan beribadah dan mencintai Rabb-nya serta kembali kepada-Nya. Dengan cara itulah, hati akan merasakan kegembiraan, kesenangan, kelezatan, keni’matan, dan ketentraman. Seperti halnya yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah: “bahwa setiap kali hati bertambah cinta kepada Allah, bertambah pula ubudiyah hati kepada-Nya, akan bertambah kecintaan hati kepada-Nya, dan akan mengutamakan-Nya ketimbang apapun”.
Kita pasti tau, bahwa kita itu milik Allah, dan adanya dunia ini, hanya sebagai tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang abadi. Mari, kita ingat kembali pesan-pesan dari Luqman Al-Hakim : “Wahai Anakku, sesungguhnya manusia itu terdiri dari dari 3 bagian: sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya, dan sisanya untuk ulat dan cacing. Bagian pertama, yang akan kembali pada Allah dan ruhnya. Bagian kedua, yang kembali menjadi miliknya sendiri adalah amalnya. Bagian ketiga, yang akan menjadi santapan ulat dan cacing adalah jasadnya. Maka, kenalilah siapa dirimu, niscaya kamu akan kenal siapa Tuhanmu! Terakhir, beningkan hatimu, jauhkan fitnah dan prasangka, serta sibukkan diri untuk mengurus aibmu sendiri!”
Muhasabah
Dalam beribadah kepada Allah Swt, kita harus senantiasa mengoreksi diri kita sendiri. Orang yang tidak mau melakukan introspeksi diri hidupnya akan selalu dibelenggu keinginan nafsunya, merasa dirinya paling benar, dan mudah menyalahkan orang lain.
Introspeksi diri (muhasabah) adalah mengoreksi atau mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat karena manusia itu tidak terlepas dari kesalahan. Tidak ada seorang pun yang selamanya benar atau terus salah, tetapi dia akan senantiasa berada di anatara keduanya. Artinya, pada suatu waktu, manusia bias benar, dan pada waktu yang lain, manusia bias salah. Rasulullah Saw bersabda: “Manusia itu tempat kesalahan dan lupa”.
Adapun ilmu yang dapat digunakan untuk sarana berintrospeksi diri ada dua macam, yaitu ilmu tauhid dan fiqih.
Pertama, introspeksi dengan tauhid digunakan sebagai cara untuk mengingat bahwa kejadian atau diadakan (ijad) dan ditiadakannya (i’dam) diri kita, tiada lain sebagai bukti kekeuasaan Allah, serta memberikan kesadaran bahwa kita ini dihidupkan, dimatikan, dan diberi ketrampilan oleh Allah. Kita diciptakan dengan sifat Al-Khaliq Allah sehingga meyakini bahwa setiap kejadian dan waktu ada dalam kekuasaan-Nya (qudrah).
Apabila kita memiliki perasaan sebagai penentu hidup kita sendiri dan menghilangkan qurah Allah, misalnya dengan menganggap segala sesuatu adalah hasil usaha dan ketrampilan sendiri, berarti kita telah berbuat kesalahan karena perasaan semacam itu termasuk ‘ujub.
Kedua, introspeksi dengan fiqih artinya tindakan dan perilaku kita harus dibimbing oleh hokum-hukum fiqih. Apakah tindakan (‘amaliyah) kita hukumnya wajib, sunah, makruh, atau haram? Jika kita melakukan perbuatan haram (melanggar larangan Allah), berarti kita telah berbuat kesalahan.
Selain kedua ilmu tersebut, kita pun harus memiliki modal untuk mengevaluasi diri, yaitu:
1. Membaca kalimat “laa haula wa laa quwwata illa billaah”.
2. Membaca “subhaanallaah”, Maha suci Allah yang telah menciptakan dan mengawasi kami, serta menyembuhkan kami dari segala penyakit. Hanya Engkaulah yang menghilangkan segala masalah yang kami hadapi.
Rosulullah bersabda: “Barang siapa membaca subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar (sebanyak) tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Membaca subhanallah tidak boleh sebatas diucapkan, tetapi harus diresapi dalam hati. Bacaan tersebut akan menjadi benih amal yang akan dituai kelak di akhirat.
Kalimat subhanallah mengandung pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki kehendak terhadap semua makhluk. Kalimat alhamdulillah adalah bentuk syukur kita kepada Allah atas segala anugrah-Nya, yaitu berupa keimanan, keIslaman, dan terjaga dari perbuatan maksiat. Sedangkan kalimat Allahu akbar mengakui bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Kuasa. Tidak ada satu pun dari makhluk yang besar mampu menandingi kebesaran-Nya. Apalagi kita, sebagai makhluk-Nya yang kecil, ibarat air yang sedikit di lautan, tidak berdaya untuk menunjukkan diri di hadapan kebesaran-Nya.
Orang yang sudah mampu melakukan introspeksi diri akan mendapatkan empat predikat, yaitu sebagai:
1. Ta’ib. Predikat ini disandang oleh seseorang yang berintrospeksi diri pada saat dia mengetahui dan menyadari kesalahannya, kemudian dia bertaubat dan tidak larut dalam kesalahannya tersebut.
2. Shabir. Predikat ini disandang pada saat seseorang menyadari bahwa musibah yang menimpa dirinya dating dari Allah sebagai bentuk peringatan atau teguran-Nya ketika orang tersebut berbuat kesalahan. Kesabaran lahir setelah seseorang benar-benar bertaubat kepada Allah.
3. Syakir. Disandang oleh orang yang meyakini bahwa meskipun dia berbuat salah, Allah tetap menyayanginya. Allah tidak menurunkan azab kepadanya seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, setelah dia bias bersabar dengan musibah, tertanamlah sikap syukur kepada Allah dalam diri orang yang berintrospeksi diri sehingga dia layak mendapat gelar syakir.
4. ‘Arif. Disandang setelah kesabaran dan sikap syukur terpenuhi karena keduanya termasuk dua di antara sifat yang dimiliki al-‘arif billah (‘arifin).
Namun, sebaliknya orang yang suka mengoreksi dan mencari kesalahan orang lain akan mendapatkan predikat:
1. Hasid (orang yang hasud), yaitu orang yang tidak senang melihat kesuksesan orang lain dan merasa puas ketika orang lain mendapat kecelakaan (penderitaan).
Orang yang berbuat hasud akan mendapatkan kerugian berupa:
• Dosa hasud itu akan kembali kepada dirinya sendiri.
• Kebaikan orang yang berbuat hasud akan diberikan kepada orang yang dihasud (mahsud).
2. Matakabbir (orang yang sombong), yaitu orang yang merasa dirinya paling benar, sedangkan orang lain selalu salah. Allah berfirman: “maka inilah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong” (Q.S. Al-Mukmin: 76)
3. Qaswah al-qulub (keras hati), yaitu orang yang tidak mau menerima nasihat dari orang lain, jauh dari ulama dan ajaran agama.
Oleh karena itu, jika ibadah kita ingin benar dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah, kita harus selalu berintrospeksi diri (ihtisab al-nafs), yaitu mengoreksi kesalahan sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain. Tentu, sekecil apapun kesalahan orang lain, maka ia akan selalu terlihat. Peribahasa mengatakan: “Kuman di seberang lautan tampak kelihatan, namun gajah di kelopak mata tidak kelihatan”.
Makna Ma'af yang Sebenarnya
Maaf dan memaafkan... kata yang memiliki banyak arti, baik menabur perdamaian maupun rekonsiliasi, yakni kesediaan hati untuk menerima kesalahan masa lalu dan siap menatap kemasa depan yang lebih cerah. Dua kata itu memang mudah diucapkan, namun terkadang berat jika dilaksanakan dengan penuh ketulusan.
Secara filosofis, memaafkan berarti keinginan untuk hidup tanpa menegok ke belakang dan memupus kenangan saat kebencian dan dendam pernah membara. Memaafkan mempunyai implikasi besar. Melalui kekuatan memaafkan seseorang akan merasa terbebaskan dari beban masa lalu, sehingga mereka bisa bertindak tegas dalam masa kini. Memaafkan yang dimaksud bukan sekedar tindakan lahiriyah semata, tetapi juga komitmen batin untuk siap menerima dan tulus terhadap tindakan memaafkan tersebut.
Seorang ahli telah menacatat bahwa dalam al-Qur’an telah ada 12 ayat yang membahas tetang memaafkan. Inilah bukti bahwa Islam selalu mengajarkan sikap memaafkan. Tindakan Rasul pun menjadi uswatun hasanah bagi umat yang ingin belajar sikap memaafkan. Bagi para muslim, perayaan idul fitri yang dianggap sebagai hari raya adalah juga merupakan perayaan yang memuat seruan untuk saling memaafkan. Artinya, hari bahagia itutidak sekedar dirayakan dengan berjabat tangan, namun ada satu tanggung jawab besar utnuk melupakan masa lalu dan siap melangkah untuk kebaikan masa depan.
Apabila masa lalu dipenuhi dengan konflik dan dendam serta hubungan yang renggang dan persaudaraan yang terputus, maka dengan i’tikad saling memaafkan kita mulai menjadi momen untuk mengembalikan ikatan dan hubungan persaudaraan tersebut. Oleh karenanya, setiap manusia dituntut untuk mampu mengaktualisasikan makna memaafkan tersebut dalam lapangan sosial. Karena dengan kata maaf, seseorang berrati telah ikut bertanggung jawab dalam menjaga perdamaian dan menghindari adanya konflik.
“Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah”. (Q.S.Asy-Syura : 40)
Tunggu apa lagi,,, masihkah ada dendam dalam hati sehingga tak mau untuk saling berbagi dan saling memaafkan?? ^_^
Menilik Kesabaran dari Kisah Nabi Dzulkifli as.
Semuanya pasti tak asing dengan nama Nabi Dzulkifli, namun siapa sangka jika tenyata ada di antara kita ada yang tak tahu kisahnya? Apa yang dapat kita ambil dari kisah beliau?? Menilik dari Q.S.Al-Anbiyaa`: 85-86 dan Q.S.Shaad: 48, Yuk kita simak kisahnya...
Nabi Dzulkifli adalah putra Nabi Ayyub yang pada asalnya bernama Basyar. Setelah diangkat menjadi Nabi dan Rosul, namanya menjadi Dzulkifli (yang berarti orang yang sanggup memegang janji).
Dalam suatu riwayat, ada seoranga raja yang sudah berusia lanjut membuat sandiwara kepada seluruh rakyatnya, dengan isi sayembara: “Barangsiapa yang sanggup berpuasa pada waktu siang hari, dan malam harinya mlaksanakan shalat, maka ia dapat mengganti kedudukannya ssebagai raja. Dalam sayembara itu, tak satu pun di antara mereka yang sanggup melakukannya kecuali Nabi Dzulkifli. Karena berkat pertolongan Allah lah Nabi Dzulkifli berhasil memenangkan sayembara tersebut dan kemudin menjadi raja.
Setelah Nabi Dzulkifli menjadi raja, maka diatur lah jam-jam tidurnya, artinya; jam sekian tidur, jam sekian mengurusi rakyat, dan jam sekian melaksanakan amanat atau janji yaitu berpuasa di siang hari, serta mengerjakan shalat di malam harinya. Hal itu dilaksanakan tiap hari.
Pada suatu hari, Nabi Dzulkifli digoda oleh syaitan yang menyerupai manusia. Ia meminta agar Nabi menyelesaikan suatu perkara seketika itu juga, padahal beliaumasih berada di waktu jam tidur. Akhirnya perkara itu diserahkan oleh wakilnya, namun syaitan yang menyerupai manusia itu tidak mau, sebab dia menginginkan perkara itu diselesaikan oleh raja sendiri. Syaitan pun tidak pergi sampai pagi menyapa. Nabi Dzulkifli pun tidak marah dan masih tetap dalam kesabaran. Demikian juga ketika suatu ketika terjadi perang dengan orang-orang yang durhaka kepada Allah, maka Nabi Dzulkifli memerintahkan rakyatnya untuk berperang dan rakyatnya tidak mau melaksanakannya karena takut mati sehingga mereka meminta kepada Nabi Dzulkifli agar memintakan perlindungan kepada Allah agar tidak mati dalam berperang, dan mereka akan melaksanakannya. Setelah Nabi mendengar permintaan mereka, lalu beliau bedo’a kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui hingga akhirnya do’a tersebut dikabulkan karena Nabi Dzulkifli selalu memegang amanat atau janji.
Kisah Islamnya Bilal bin Rabbah
Siapa yang tak kenal Bilal Al-Habsyi, seorang sahabat yang masyhur? Ia muadzin tetap masjid Nabawi. Semula ia seorang budak milik seorang kafir, yaitu Umayyah bin Khalaf, kemudian ia memeluk Islam yang menyebabkannya banyak menerima berbagai siksaan.
Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang snagt memusuhi Islam. Ia membaringkan Bilal di atas padang pasir di siang hari yang sangat panas di bawah terik matahari sambil meletakkan batu besar di dadanya, sehingga Bilal tidak bisa bergerak. Lalu dia berkata kepadanya: “Apakah kamu siap mati seperti ini atau tetap hidup dengan syarat kamu meninggalkan Islam?”. Dalm keadaan seperti itu, Bilal hanya berkata: “Ahad! Ahad! (hanya satu yang berhak disembah)”
Malam hari, ia dirantai dan dicambuk terus-menerus sehingga badannya penuh luka. Esok harinya, denganluka itu ia dijemur kembali di padang pasir yang panas sehingga lukanya semakin parah. Tuannya berharap, ia akan meninggalkan Islam atau menggelepar mati. Orang yang menyiksa Bilal sampai keletihan, sehingga perlu bergantian. Kadang kala Abu jahal, Umayyah bin Khalaf, dan terkadang orang lain. Setiap orang berusaha meenyiksanya sekuat tenaga. Ketika Sayyidina Abu Bakar melihat penderitaan Bilal, dia membeli Bilal dan memerdekakannya.
Orang-orang musyrik menjadikan berhala sebagai sesembahan, sedangkan islam mengajarkan tauhid. Inilah yang mnyebabkan lisan Bilal selalu terucap: “Ahad! Ahad!”. Hal itu karena hubungan dan cintanya yang tinggi terhadap Allah SWT.
Dalam cinta dunia yang palsu pun, ketika kita melihat seseorang yang mencintai seseorang tentu akan merasa nikmat jika menyebut nama orang yang dicintainya. Kadang kala, tanpa tujuan yang jelas namanya akan disebut-sebut. Lalu, bagaimana dengan cinta kepada Allah SWT yang mendatangkan kesuksesan dunia akhirat?
Karena cintanya kepada Allah, Bilal didera dengan segala siksaan. Ia diserahkan kepada anak–anak Makkah untuk diarak di lorong-lorong. Akan tetapi, dari bibirnya selalu terucap: “Ahad! Ahad!”. Dengan pengorbanannya itu, dia mendapat kehormatan sebagai muadzin Rasulullah, baik ketika tinggal di Madinah maupun dalam perjalanan. Setelah Nabi wafat, dia tinggal di Madina untuk beberapa lama. Akan tetapi, katrena melihatt Nabi sudah tidak ada di tempat, sulit baginya untuk terus tinggal di madinah. Oleh karena itu, ia berniat menghabiskan sisa hidupnya untuk berjihad di Syam. Dia pun berangkat berjihad dan beberapa lama tidak kembali ke Madinah.
Suatu ketika ia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Belia bersabda: “Wahai Bilal, masihkah kamu setia kepadaku? Mengapa kamu tidak pernah menziarahiku?”. Begitu bangun, ia segera pergi ke Madinah. Setibanya di sana, Hasan dan Husain memintanya untuk mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan kedua cucu Nabi – orang yang sangat dicintainya itu. Dia pun mulai adzan. Tatkala suara adzan seperti pada masa hidup Rasulullah sampai di telinga penduduk Madinah, semua menjadi gempar. Para wanita pun menangis dan keluar dari rumah mereka. Setelah tinggal beberapa hari di Madinah, ia pun kembali ke Syam. Menjelang tahun 20 H, ia wafat di Damaskus.
Langganan:
Komentar (Atom)