Jumat, 27 Desember 2013

Mengisi Waktu agar Tidak Galau



Romi Satrio Wahono, seorang penulis dan pengajar, pernah ditanya sehari tidur berapa jam? Meski jadwal padat, kok masih produktif menulis dan mengajar di mana-mana? Ia menjawab supaya dirinya bias tetap produktif di antara kesibukan pekerjaan, belajar dan urusan rumah tangga, ia memiliki tiga kiat jitu pengatur waktu. Ia mengaku bahwa kiat-kiat tersebut selama ini terbukti efektif dan manjur. Nah, apa saja tiga kiat jitu itu? Pertama kurangi tidur, kedua kurangi tidur, ketiga kurangi tidur.
Sejak masuk SMA Taruna Nusantara 1990, Romi membiasakan diri tidur hanya 3-4 jam dalam sehari. Awalnya, ia pusing dan sering tertidur di kelas. Saat kuliah di Jepang, kebiasaannya itu masih dibawa, dan hal itu menjadikannya sanggup mengejar banyak ketertinggalan masalah bahasa dan mengatasi berbagai masalah lain. Sekarang, Romi menggunakan hari dari pagi sampai sore untuk urusan bisnis, mengajar dan penelitian. Mulai sore hari, ia menulis, mempersiapkan bahan mengajar, atau berbagai pengalaman dengan teman-teman IlmuKomputer.com supaya mahir melakukanpresentasi, mengajar di kelas, dan public speaking.
Di sela-sela waktu, Romi masih bisa membimbing tugas akhir mahasiswa, menerima konsultasi mahasiswa lewat YM, dari masalah memilih jurusan, memilih universitas, memilih software, sampai memilih jodoh. Ia hidup di Jakarta yang jalanannya selalu macet akibat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Supaya tidak tua di jalan, ia sedikit mengubah style waktu kerjanya. Ia berangkat agak siang setelah jalanan mulai lengang, dan pulang agak malam ketika lalu lintas sudah sepi.
Selain itu, Romi juga ditanya, bukankah menurut penelitian bahwa mengurangi tidur itu akan mengurangi usia kita? Jawaban Romi sungguh menyentak, di luar kelaziman, namun sungguh luat biasa. Ia berprinsip bahwa tidak masalah mati muda, asal meninggalkan banyak karya dan hasil perjuangan yang bermanfaat untuk masyarakat daripada berumur panjang, tapi banyak melakukan kegiatan yang tidak berguna.
Romi selalu menyampaikan target umur pendek kepada teman-temannya, meskipun masih banyak dari mereka yang belum ngeh atau malah mengacir ketakutan. Ia yakin bahwa perjalanan hidup tidak akan berlangsung lama. Diberi umur samapi 35 tahun, Alhamdulillah. Jika ia ditakdirkan sampai berusia 40 atau 50 tahun, ya ini berarti suatu tantangan dari Tuhan agar ia lebih keras berjuang mewarnai perbaikan di Republik ini. Sejak SMA, ia dibiayai oleh rakyat alias mendapatkan beasiswa. Bias dikatakan, kepintarannya dibayar oleh rakyat. Jadi, ia harus mengembalikannya kepada rakyat dengan mencicil dan pelan-pelan.
Bagi Romi, kehidupan adalah ladang jihad alias usaha sungguh-sungguh. Hal ini sering dibahasakannya dengan perjuangan. Waktu kita tidak banyak. Sebab, sembari menyetir kata-kata Hasan Al-Banna, pemikir Islam asala Mesir, “kewajiban kita lebih banyak daripada waktu tang tersedia”.
Membahas soal waktu. Yahya bin Muhammad bin Hubairah mengatakan, “waktu semakin berharga bila dijalankan dengan baik, dan aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah kita lalaikan.”
Waktu adalah hal yang sangat berharga. Ketika ia pergi, maka tak bias kembali. Jika kita melewati waktu dengan sia-sia, maka hanya penyesalan yang kita terima. Waktu merupakan hal yang sangat penting. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang ke mana umurnya dihabiskan? Tentang hartanya: dari mana memperolehnya dank e mana dibelanjakan? Serta tentang tubuhnya: untuk apa digunakannya?”
Salah seorang sahabat, Abdullah bin Mas’ud, pernah berujar, “Aku tidak senang melihat seseorang menganggur, tidak mengurus masalah dunia maupun akhirat.” Bagi seorang Muslim, memanfaatkan waktu bisa juga dalam bentuk mengerjakan kebajikan dengan sesegera dan tidak menunda-nundanya. Sebagaimana nasihat Hasan Al-Bashri, “jangan lagi katakana ‘besok, besok’ sebab kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan menemui Rabb-mu. Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu ini tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilanglah sebagian dirimu.”
Sebagaimana kita ketahui dengan baik, banyak orang sukses di dunia karena mereka mampu memanfaatkan waktu dengan baik. Bagi sebagian orang, memanfaatkan waktu adalah hal yang sangat penting. Namun, tak sedikit orang yang tidak bias menghargai waktu dengan baik. Jika kita termasuk salah satu di antara orang-orang yang mampu menghargai waktu, maka teruslah pertahankan dan kembangkan. Tetapi, jika kita tipikal orang yang belum dapat memanfaatkan waktu dengan baik, maka alangkah baiknya jika ia mengubah kebiasaan itu dengan segera.
Banyak hal yang dapat dicapai jika kita sanggup memanfaatkan waktu. Secara teori, mungkin sudah banyak orang yang mengetahui bahwa menghargai waktu itu adalah sangat penting dan merupakan salah satu kunci keberhasilan yang sangat vital peranannya. Namun, untuk mempraktikkannya dalam sehari-hari, susahnya minta ampun!
Banyak hal yang dapat kita lakukan semasa hidup. Berapa banyak napas yang kita hembuskan, sebanyak itu pula waktu kita telah berlalu. Ini bukan masalah yang remeh, tapi akan menjadi sejarah hidup kita, yang akan dipelajari oleh generasi setelah kita.
Waktu memang selalu berjalan dan akan terus berjalan. Waktu tidak dapat diciptakan oleh manusia, tapi kita bias memanfaatkannya bersama. Begitu banyak waktu yang ada di kehidupan kita, tapi yang menjadi pertanyaan adalah berapa persen waktu yang telah kita manfaatkan untuk kemajuan diri kita? Bila waktu yang merupakan karunia Tuhan itu kita sia-siakan, maka apa yang bias kita berikan kepada orang lain? Apa yang telah kita lakukan?? Silahkan direnungkan…….. 

*mengutip dari buku Kisah Motivasi

Sabtu, 21 Desember 2013

Filsafat Air

Ada dua buah benda yang bersahabat karib yaitu besi dan air. Besi serigkali membanggakan dirinya sendiri.ia sering menyombongkan diri kepada sahabatnya. “Lihat ini aku, aku, kuat dan keras. Aku tidak seperti kamu yang lemah dan lunak,” ucap besi. Air hanya diam mendengar tingkah sahabtnya itu. Suatu hari, besi menantang air berlomba menembus suatu gua dan mengatasi segala rintangan yang ada disana. Aturannya, barang siapa yang dapat melewatri gua itu dengan selmat tanpa terluka, maka ia dinyatakan menang. Rintangan pertama mereka ialah harus melalui penjaga gua, yaitu batu-batu yang keras dan tajam. Besi mulai menunjukkan kekuatannya. Ia menabrakkan dirinya ke batu-batu itu. Tetapi, karena kekerasanya, batu-batuan itu mulai runtuh menyerangnya, dan besipun banyak terluka dalm perlawanan itu. Air melakukan tuganya. Ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan. Dengan lembut ia mengikis bebatuan itu sehingga bebatuan lainya tidak terganggu. Ia hanya melubangi seperlunya saja untuk lewat tetapi tidak merusak lainya. Skor 1:0 untuk kemenangan air atas besi alam rintangan ini. Rintangan kedua ialah mereka harus melalui celah sempit untuk tiba didasar gua. Besi mengubah dirinya menjadi matabor yang kuat. Ia mulai berputar-putar untuk membus celah itu. Tatapi, celah-celah tersebut sulit ditembus. Semakin keras ia memutar, memang calah semakin hancur, tatapi iapun semakin terluka. Tibalah giliran air. Dengan santainya, ia mengubah dirinya mengikuti bentuk celah-celah tersebut. Karena bentuknya yang bisa berubah, ia bisa mengalir melalui cela-celah itu dengan leluasa tanpa terluka. Air menang, skor 2:0 untuk kekalahan besi dalam tantangan ini. Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati suatu lembah dan tiba di luar gua. Besi kesulitan mengatasi rintangan ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia berkata kepada air, ”Skor kita 2:0. Aku mengakui kehebatanmu jika dapat melalui rintangan ini!” Airpun segera menggenang. Sebenarnya, ia pun kesulitan mengatasi rintangan ini. Tetapi, air membiarkan sang matahari membantunya menguap. Air terbang dengan ringan menjadi awan dengan bantuan angin yang meniupnya ke seberang, kemudian menjadi mendung, lalu air turun sebagai hujan. Air menang dengan score 3:0. Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah jadikan hidup anda seperti air. Air memperoleh sesuatu dengan kelembutan, tanpa merusak dan mengacaukan yang lain. Meskipun air bergerak pelan dan sedikit demi sedikit, tetapi ia dapat menembus bebatuan yang keras. Ingat, hati seseorang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih, bukan dengan paksaan dan kekerasan. Kekerasan hanya menimbulkan dendam, dan paksaan hanya menuai keinginan membela diri. Air selalu mengubah bentuknya sesuai dengan lingkungan. Ia fleksibel dan tidak kaku. Karena itu, ia dapat diterima oleh lingkungannya. Dan, saat air mengalami kesulitan dalam mengatasi massalah, ia tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia dikaruni kemampuan untuk mengubah dirinya menjadi uap. Air bersifat mengalah, namun selalu tidak pernah kalah. Air mematikan api dan membersihkan kotoran. Kalau sekiranya akan terkalahkan, air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengmbun. Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu. Bilamana bertemu batu arang, ia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali. Air dapat menjernihkan udara sehingga angin menjadi mati (saat hujan). Air dapat menaklukan hambatan dengan segala kerendahan hati. Air sadar bahwa tak ada satu kekuatan pun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan. Air menang dan mengalah. Ia tak pernah menyerang, namun selalu menang pada akhir perjuangannya. Air adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh manusia agar tetap hidup. Bahkan, semua mahluk hidup passti membutuhkan air. Kehadiran air di dunia ini sangat memberikan manfaat besar, penting, dan selalu dibutuhkan oleh semua makhluk. Tapi, air juga sanggup mendatangkan bahaya, tengok saja banjir dan tanah longsor. Air dapat larut dengan bahan lain untuk memberikan cita rasa yang berbeda-beda seperti sirup, kopi, teh, ataupun jus. Sanggupkah manusia menjadi air? Air memberikan manfaat, kesejukan, kenikmatan, dan kepuasan saat meneguknya. Bisakah manusia dilebur bersama manusia lain sehingga menjadi unik nan dinamis? Bahkan, dapat menghasilkan karya kritis dan produktif laksana air sungai yang terus mengalir? Sesungguhnya, manusia yang efektif adalah manusia yang berkontribusi bagi sesamanya, tidak diam! Air yang diam akan menjadi kotor dan sumber penyakit. Karena mempunyai masa, air akan ditarik oleh gaya grafitasi bumi sehingga ia mengalir ke tempat yang lebih rendah. Akan tetapi, ketika molekul air mengecil, air bisa menuju tempat yang lebih tinggi. Itulah yang terjadi pada proses penguapan air. Setelah molekul air yang menguap berkumpul menjadi awan, lama kelamaan air menjai berat, akhirnya jatuh menjadi hujan. Ketika manusia merendahkan diri, maka derajatnya akan naik. Sebaliknya, ketika mereka merasa besar, maka derajat mereka akan jatuh. Ada kehidupan air yang mengalir. Tetapi, di dalam air yang tergenang, terdapat berbagai penyakit. Bahkan, ada yang tidak terdapat kehidupan di dalamnya. Oleh karena itu, manusia harus terus bergerak, karena berhenti berarti berpenyakit bahkan mati.* 

* dikutip dari buku "Kisah Motivasi"

Jumat, 30 Agustus 2013

Positive thinking

Saat ini sangat sulit untuk mengalihkan acara TV dan menghindari berita yang terkadang membuat hidup semakin sumpek. Kita jarang mendengar cerita tentang orang baik yang melakukan hal-hal baik di dunia ini, dan tidak heran banyak di antara kita menjadi depresi, paranoid, dan mudah marah. Dengan semua kesulitan yang kita hadapi dalam hidup, sangat penting membiasakan diri kita untuk berpikir positif. Setiap orang di dunia ini pasti pernah mengalami yang namanya depresi. Hal ini disebabkan oleh faktor seperti trauma dan shock yang tiba-tiba, bahkan sampai hal kecil seperti kurang tidur dan liburan yang tertunda. Kunci menghindarinya adalah mencegah emosi negatif dengan mengubah gaya hidup dan perilaku. Kita harus memiliki suatu pandangan hidup positif, kalau tidak depresi akan selalu menang. Orang yang berpikiran positif selalu mengikuti suatu rencana dalam hidup. Jika kita menunggu hidup membawa kita ke suatu tempat, kita akan jatuh pada perangkap pengharapan yang terlalu banyak dan menjadi kecewa dengan cepat. Dengan mengatur tujuan yang konkrit dan realistis, kita telah membuat standar diri untuk mencapai periode waktu yang jelas. Pertama kali kita mencapai tujuan, pikiran positif akan mulai muncul dengan kapabilitas dan skill. Dan yang terbaik dari segalanya adalah tingkat kepercayaan diri. Hal lain yang banyak orang cari dan pertahankan adalah kebebasan. Kebebasan adalah sesuatu yang bernilai yang dimiliki setiap orang. Kebebasan untuk berpikir dan mencipta, akan tumbuh seperti yang kita harapkan tentunya dengan cara yang positif. Ketika kita menjadi sangat tergantung dengan orang lain, kita akan berpikir destruktif dan menjadi malas. Tumbuhkan sikap ketidaktergantungan segera mungkin. Bertanggungjawablah pada hidup dan tindakan yang kita lakukan. Sekali anda merasa mampu untuk mengontrol hidup, kita memulai perjalanan pikiran positif kita. Ketika kita sedang memiliki masalah, ingatlah dengan berpikiran positif bahwa “anda adalah apa yang anda pikirkan, dan anda merasa apa yang anda inginkan”. Dengan melakukan ini, anda akan selalu menjadi seorang pemenang dalam waktu baik dan seorang survivor saat waktu buruk.

Bahasa Hati

Setiap kali hati terasa gundah karena masalah yang tengah dihadapi, pergilah menenangkan diri dan dengarkan hati Anda bernyanyi: Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Ada kekuatan di dalam kemurahan, dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat karena dia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan kebaikan sesama insan. Ada kekuatan di dalam kebaikan, dan orang yang baik adalah orang yang kuat karena dia mampu melakukan kebaikan kepada semua orang. Ada kekuatan di dalam cinta, dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat karena dia mampu mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri. Ada kekuatan dalam tawakegembiraan, dan orang tertawa gembira adalah orang yang kuat karena ia tidak pernah getar dengan ujian dan dugaan. Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, dan orang yang dirinya penuh kedamaian adalah orang yang kuat karena dia tidak pernah tergugat dan tidak mudah diumbang-ambingkan. Ada kekuatan di dalam kesabaran, dan orang yang sabar adalah orangg yang kuat karena dia sanggup menanggung segala sesuatu dan ia tidak pernah merasa disakiti. Ada kekuatan di dalam kesetiaan, dan orang yang setia adalah orang yang kuat karena dia mampu mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi demi kesetiaannya kepada Allah dan orang lain. Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan. Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat karena ia mampu menahan dirinya untuk tidak membalas dendam. Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, dan orang yang mampu menguasai diri adalah orang yang kuat karena mampu mengendalikan segala nafsu keduniawian. Di situlah terletaknya kekuatan sejati. Dan sadarlah bahwa kita juga memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi segala masalah kita. Di manapun dan kapanpun, seberat dan serumit apapun.

Menikmati Rasa Bosan

Seorang pak tua yang bijak sedang bercakap-cakap dengan tamunya. Tamu : “sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, Pak Tua?” Pak Tua : “bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu” Tamu : “ kenapa kita merasa bosan?” Pak Tua : “karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki” Tamu : “bagaimana menghilangkan kebosanan?” Pak Tua : “hanya ada satu cara: nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya” Tamu : “bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?” Pak Tua : “bertanyalah pada dirimu sendiri. Mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?” Tamu : “karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua...” Pak Tua : “benar sekali, Anakku.. tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan itu pun akan hilang.” Tamu : “bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?” Pak Tua : “ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelepon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya..” Lalu tamu itu pun pergi. Beberapa hari kemudian tamu itu mengunjungi pak Tua lagi. Tamu : “pak Tua, saya sudah melakukan apa yang anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?” Pak Tua : “ coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan” Tamu : “contohnya?” Pak Tua : “mainkan permainan yang paling kamu senangi waktu kecil dulu” Lalu tamu itu pun pergi. Beberapa minggu kemudian, tamu itu datang lagi. Tamu : “pak Tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?” Pak tua tersenyum mendengar penuturan tamu tadi. Pak tua menanggapinya: “karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, Anakku.. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria” Life goes on.......

Sabtu, 01 Juni 2013

Malas Baca sebagai Sensor

Sensor yang paling berbahaya atas karya para pengarang kreatif adalah rendahnya minat baca dalam masyarakat kita. Di satu sisi, anak-anak dan remaja dihimbau untuk meningkatkan kemampuan dan kemauan membaca,tetapi di sisi lain mereka juga disuguhi berbagai sarana hiburan yang menjadikan mereka lupa akan manfaat dan kegunaan membaca bagi kehidupan mereka. Contoh yang sangat gamblang yakni ketika kita berniat untuk browsing dengan alasan untuk menambah referensi tugas. Namun ketika itu, apa yang terjadi? Kita tergiur dengan membuka facebook. Walau niat awal ingin mengerjakan tugas, namun ketika muncul beberapa teman di kotak obrol, pasti tanpa sadar kita melakukan “tegur sapa” yang sebenarnya juga mengahabiskan waktu. Lalu, bagaimana dengan hasil browsing yang mau kita baca dan untuk menyelesaikan tugas?? Keprihatian akan rendahnya minat baca di kalangan remaja ini justru merupakan sensor yang paling ketat terhadap budaya menulis. Karena, apalah artinya penulis juka tak ada yang akan membaca bukunya? Dalam artian, proses sosialisasi ilmu pengetahuan harus berjalan melalui budaya baca-tulis itu, karena memang itulah cara transformasi pengetahuan yang paling dahsyat dan menyentuh berbagai khalayak. Kaum muslim-misalnya- mengenal Al- Qur’an dan Hadits juga melalui tulisan, yakni melalui mushaf yang tertulis, dan melalui kitab-kitab hadits. Secara tidak langsung keengganan untuk membaca merupakan sensor yang sangat efektif. Kita tidak bisa berharap banyak dari generasi yang enggan membaca. Baik membaca dalam artian “membaca tulisan” maupun “membaca alam” yang juga merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, karena ayat-ayat Allah bukan hanya yang tertulis di kitab suci saja (qauliy), namun juga ada ayat-ayat yang tercipta dalam bentuk alam dan seluruh isinya ini, termasuk diri kita (ayat kauniyyah). Kedua ayat ini memiliki hubungan timbale balik dan saling melengkapi: kita tidak bisa belajar hanya melalui teks tertulis tanpa menghiraukan segala yang terjadi dalam kehidupan nyata. Begitupun sebaliknya, kita pun tidak mungkin memahami realitas kehidupan nyata itu secara keseluruhan dan komprehensif. Dan karenanya, ayat-ayat tertulis setidaknya dapat membantu kita untuk lebih menyadari bahwa tidak ada manusia sempurna yang dapat mengetahui semuanya. Karena kesempurnaan, hanyalah milik Allah.

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak; ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Akan tetapi, suatu ketika datanglah bencana badai yang mengempas pulau itu. Air laut tiba-tiba naik dan menenggelamkan pulau tersebut. Semua penghuni mencoba menyelamatkan dirinya. Cinta terlihat kebingungan karena ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin meninggi membasahi kaki Cinta. Tak lama kemudian Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. “Wahai Kekayaan, tolonglah aku!” teriak Cinta. “Aduh, maaf Cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu ikut serta, nanti perahu ini bisa karam”, jawab Kekayaan. Kemudian Kekayaan mengayuh perahunya cepat-cepat pergi. Cinta sangat sedih melihatnya. Lalu ia melihat Kegembiraan lewat dengan perahunya dan Cinta pun meminta tolong padanya. Akan tetapi, Kegembiraan terlalu gembira sehingga tidak dapat mendengar teriakan Cinta. Air pun makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Cinta semakin panik. Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan. “Kecantikan, bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta. “Aduh, Cinta... Maaf, kamu basah dan kotor. Aku tidak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang sangat indah dan aku banggakan ini.” Sahut Kecantikan. Cinta pun sedih mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah sedang lewat Kesedihan. “Oh... Syukur dirimu lewat, Kesedihan. Bawalah aku dalam perahumu!”, kata Cinta “Maaf, Cinta... Aku sedang bersedih dan sedang ingin sendirian saja.” Kata Kesedihan dengan pilu. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamannya. Pada saat genting itulahtiba-tiba terdengar suara, “Wahai, Cinta! Ayo naik ke perahuku!” Cinta menoleh mencari arah suara itu dan dia hanya melihat perahu dan orang tua di dalamnya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu tersebut, tepat sebelum air menenggelamkannya. Akhirnya, sampailah di pulau terdekat dan orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itulah Cinta tersadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa gerangan orang tua baik hati tadi. Tidak lama, Cinta menanyakan hal tersebut kepada seorang penduduk di pulau itu. “Oh... Orang tua itu adalah Sang Waktu”, kata orang tersebut. “Tetapi, mengapa ia menolongku? Bahkan aku tak mengenalnya. Teman-teman terdekatku pun malah tidak menolongku”. Ungkap Cinta heran. “Sebab.....”, kata orang itu melanjutkan “hanya Waktu-lah yang tahu seberapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu.....”

Bunda, mengapa kau menangis???

Seorang anak bertanya kepada ibunya, “Ibu, mengapa ibu menangis?” Ibunya pun menjawab, “sebab ibu adalah seorang wanita, Nak.” Anak itu pun tidak terlalu mengerti. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tidak akan pernah mengerti...” Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa sebab yang aku mengerti?” Sang Ayah pun menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh ayahnya. Lalu waktu berjalan dan anak itu sudah tumbuh menjadi remaja dan terus bertanya-tanya mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, mengapa wanita mudah sekali menangis” Dalam mimpinya, Tuhan menjawab; “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, termasuk membuat nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.” Kalimat itu pun berlanjut... “Kuberikan wanita kekuatan untuk melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya. Walau sering kali pula ia kerap berulang kali menerima cercaan dari anaknya.” “Pada wanita Kuberikan kesabaran. Untuk merawat keluarganya walaupun letih, walau sakit, lelah, semua tanpa keluh kesah.” “Kuberikan wanita keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, di mana semua orang sudah putus asa.” “Kuberikan pula wanita perasaan peka dan kasih sayang. Untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi apa pun dan dalam situasi apa pun. Walau tak jarang juga anak-anaknya itu melukai perasaannya, juga melukai hatinya.” “Perasaan ini pula yang akan memberikan kebahagiaan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.” “Kuberikan wanita kekuatan untuk menemani dan membimbing suaminya melalui masa-masa sulit serta menjadikan pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuknya yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?” “Ku berikan padanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk meberikan penyadaran dan pengertian, bahwa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai hati istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi”. “Dan akhirnya, Ku berikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Ku berikan kepada wanita agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walau sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan.” Ketika anak itu terbangun dari mimpinya, air matanya telah berurai membasahi muka. Anak itu teringat semua kebaikan tentang ibunya dan ia belum mengucapkan terimakasih secara sungguh-sungguh kepadanya.

Hadiah dan Penderitaan

“semoga segala peristiwa yang ku alami akan membuat diriku semakin dewasa dan memberikan pengalaman berharga untukku”. (Al- Mutanabbi) Sering kali kita mengukur keadilan dan taqdir Allah dengan keinginan diri kita sendiri. Pastilah pada saat itu, keinginan kita akan mengahdapi rasa frustasi. Tak ada satupun ketentuan Allah yang seratus persen dapat dipahami oleh keinginan kita, persis seperti mengukur banyaknya air laut yang terlepas dan tak terwadahi. Meski demikian, masih saja ada orang yang percaya diri bahwa ilmunya dapat menghakimi ketentuan Allah, akibatnya dia mengalami rasa putus asa dan bersedih. Padahal Allah telah menyatakan “jangan putus asa dari rahmat Allah!”. Berusahalah untuk tidak memelihara kebencian; kebencian dan kemarahan adalah api yang membakar diri sendiri. Sungguh, memelihara kemarahan berarti menganiaya diri sendiri. “dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An- Nisa' [4]: 110) Kesalah pahaman kita terhadap penderitaan membuat kehidupan kita bertambah runyam. Alkisah, ada seseorang yang sangat membenci penderitaan melihat sesuatu yang aneh di sebuah pohon. Ada kepompong yang bergerak-gerak, “apakah itu?”. Ternyata secara perlahan ada gerakan lembut dari kupu-kupu yang hendak keluar dari kepompong itu. Rupanya ini saat kelahiran setelah mendekam lama di dalam sleeping bag alami itu. Calon kupu-kupu itu tampak susah payah, tubuhnya yang masih lemah harus berjuang membuka kulit kepompong yang cukup keras. Sesekali calon kupu-kupu itu berhenti sejenak, seperti merasakan kesakitan atau sedang mengumpulkan tenaga agar bisa menerobos keluar dari kepompong. Sahabat kita yang sangat baik dan menentang semua jenis penderitaan ini merasa iba. Dia ingin menolong bayi kupu-kupu itu untuk segera keluar dari kepompong. Dia lalu mengambil gunting dan mengiris permukaan kepompong itu dengan hati-hati. Alhamdulillah, bayi kupu-kupu itu kini tak lagi harus menggunakan tenaganya untuk keluardari kepompong. Semua permukaan kepompong telah dikupasnya. “Kini terbanglah!” ujarnya. Apa yang terjadi? Bayi kupu-kupu itu tak bisa terbang. Bahkan setelah ia tunggui sekian lama, bayi kupu-kupu itu tetap tak bisa terbang. Rupanya sahabat kita ini salah duga. Kesusahan yang dialami bayi kupu-kupu pada saat melahirkan diri adalah cara dia menguatkan sayap-sayapnya, sedangkan gerakan yang terhenti dari kupu-kupu adalah cara dia menyesuaikan diri dengan udara luar. Begitulah proses yang penuh dengan penderitaan itu dipercepat, kipu-kupu itu menjadi cacat. Otot-otot sayapnya tak kuat untuk terbang dan tubuhnya tak bisa menahan udara alam yang sangat dingin. Sesungguhnya hadiah penderitaan bagi bayi kupu-kupu adalah kemampuan terbang dan warna-warni yang indah. Jika ia tidak mau menderita, ia tetaplah ulat yang cacat serta aneh.

Setitik Harapan

Hidup ini tidak bisa ditimbang dengan perasaan, sebab dengan pertimbangan perasaan, kita hanya dibawa hanyut dan larut dalam kesedihan, yang akhirnya mengahncurkan diri sendiri dalam penderitaan. Ya… kadang kala kita saja yang menghancurkan diri kita sendiri, bukan orang lain. Karena, kita terbius dengan harapan semu yang kesemuanay itu Cuma khayalan. Memang, untuk memulai suatu yang baru itu sulit. Tapi, seandainya kita mau berubah, apa saja akan bisa kita lakukan, karena hati kiat bukanlah batu. Kalau batu saja bisa tembus oleh tetesan air yang selalu tabah menitik di atasnya, mengapa kita tak mampu berubah? Padahal ini bukan suatu hal yang sulit, Cuma mungkin ego kita saja yang menolaknya. Bukankah begitu? “jangan kamu taruh harapanmu pada manusia, karena kau akan kecewa. Taruhlah harapanmu pada Tuhan, agar kau terselamatkan”, begitulah kira-kira kata jalaluddin Rumi. Hati itu sendiri membutuhkan Allah, oleh karena itu, hati tidak akan menjadi baik, tidak akan berbahagia, tidak akan merasakan keni’matan, kegembiraan, kelezatan, kesenangan, ketenangan dan ketentraman, kecuali dengan beribadah dan mencintai Rabb-nya serta kembali kepada-Nya. Dengan cara itulah, hati akan merasakan kegembiraan, kesenangan, kelezatan, keni’matan, dan ketentraman. Seperti halnya yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah: “bahwa setiap kali hati bertambah cinta kepada Allah, bertambah pula ubudiyah hati kepada-Nya, akan bertambah kecintaan hati kepada-Nya, dan akan mengutamakan-Nya ketimbang apapun”. Kita pasti tau, bahwa kita itu milik Allah, dan adanya dunia ini, hanya sebagai tempat persinggahan, bukan tempat tinggal yang abadi. Mari, kita ingat kembali pesan-pesan dari Luqman Al-Hakim : “Wahai Anakku, sesungguhnya manusia itu terdiri dari dari 3 bagian: sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya, dan sisanya untuk ulat dan cacing. Bagian pertama, yang akan kembali pada Allah dan ruhnya. Bagian kedua, yang kembali menjadi miliknya sendiri adalah amalnya. Bagian ketiga, yang akan menjadi santapan ulat dan cacing adalah jasadnya. Maka, kenalilah siapa dirimu, niscaya kamu akan kenal siapa Tuhanmu! Terakhir, beningkan hatimu, jauhkan fitnah dan prasangka, serta sibukkan diri untuk mengurus aibmu sendiri!”

Muhasabah

Dalam beribadah kepada Allah Swt, kita harus senantiasa mengoreksi diri kita sendiri. Orang yang tidak mau melakukan introspeksi diri hidupnya akan selalu dibelenggu keinginan nafsunya, merasa dirinya paling benar, dan mudah menyalahkan orang lain. Introspeksi diri (muhasabah) adalah mengoreksi atau mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat karena manusia itu tidak terlepas dari kesalahan. Tidak ada seorang pun yang selamanya benar atau terus salah, tetapi dia akan senantiasa berada di anatara keduanya. Artinya, pada suatu waktu, manusia bias benar, dan pada waktu yang lain, manusia bias salah. Rasulullah Saw bersabda: “Manusia itu tempat kesalahan dan lupa”. Adapun ilmu yang dapat digunakan untuk sarana berintrospeksi diri ada dua macam, yaitu ilmu tauhid dan fiqih. Pertama, introspeksi dengan tauhid digunakan sebagai cara untuk mengingat bahwa kejadian atau diadakan (ijad) dan ditiadakannya (i’dam) diri kita, tiada lain sebagai bukti kekeuasaan Allah, serta memberikan kesadaran bahwa kita ini dihidupkan, dimatikan, dan diberi ketrampilan oleh Allah. Kita diciptakan dengan sifat Al-Khaliq Allah sehingga meyakini bahwa setiap kejadian dan waktu ada dalam kekuasaan-Nya (qudrah). Apabila kita memiliki perasaan sebagai penentu hidup kita sendiri dan menghilangkan qurah Allah, misalnya dengan menganggap segala sesuatu adalah hasil usaha dan ketrampilan sendiri, berarti kita telah berbuat kesalahan karena perasaan semacam itu termasuk ‘ujub. Kedua, introspeksi dengan fiqih artinya tindakan dan perilaku kita harus dibimbing oleh hokum-hukum fiqih. Apakah tindakan (‘amaliyah) kita hukumnya wajib, sunah, makruh, atau haram? Jika kita melakukan perbuatan haram (melanggar larangan Allah), berarti kita telah berbuat kesalahan. Selain kedua ilmu tersebut, kita pun harus memiliki modal untuk mengevaluasi diri, yaitu: 1. Membaca kalimat “laa haula wa laa quwwata illa billaah”. 2. Membaca “subhaanallaah”, Maha suci Allah yang telah menciptakan dan mengawasi kami, serta menyembuhkan kami dari segala penyakit. Hanya Engkaulah yang menghilangkan segala masalah yang kami hadapi. Rosulullah bersabda: “Barang siapa membaca subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar (sebanyak) tiga puluh tiga kali setiap selesai shalat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Membaca subhanallah tidak boleh sebatas diucapkan, tetapi harus diresapi dalam hati. Bacaan tersebut akan menjadi benih amal yang akan dituai kelak di akhirat. Kalimat subhanallah mengandung pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki kehendak terhadap semua makhluk. Kalimat alhamdulillah adalah bentuk syukur kita kepada Allah atas segala anugrah-Nya, yaitu berupa keimanan, keIslaman, dan terjaga dari perbuatan maksiat. Sedangkan kalimat Allahu akbar mengakui bahwa Allah Maha Perkasa dan Maha Kuasa. Tidak ada satu pun dari makhluk yang besar mampu menandingi kebesaran-Nya. Apalagi kita, sebagai makhluk-Nya yang kecil, ibarat air yang sedikit di lautan, tidak berdaya untuk menunjukkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Orang yang sudah mampu melakukan introspeksi diri akan mendapatkan empat predikat, yaitu sebagai: 1. Ta’ib. Predikat ini disandang oleh seseorang yang berintrospeksi diri pada saat dia mengetahui dan menyadari kesalahannya, kemudian dia bertaubat dan tidak larut dalam kesalahannya tersebut. 2. Shabir. Predikat ini disandang pada saat seseorang menyadari bahwa musibah yang menimpa dirinya dating dari Allah sebagai bentuk peringatan atau teguran-Nya ketika orang tersebut berbuat kesalahan. Kesabaran lahir setelah seseorang benar-benar bertaubat kepada Allah. 3. Syakir. Disandang oleh orang yang meyakini bahwa meskipun dia berbuat salah, Allah tetap menyayanginya. Allah tidak menurunkan azab kepadanya seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, setelah dia bias bersabar dengan musibah, tertanamlah sikap syukur kepada Allah dalam diri orang yang berintrospeksi diri sehingga dia layak mendapat gelar syakir. 4. ‘Arif. Disandang setelah kesabaran dan sikap syukur terpenuhi karena keduanya termasuk dua di antara sifat yang dimiliki al-‘arif billah (‘arifin). Namun, sebaliknya orang yang suka mengoreksi dan mencari kesalahan orang lain akan mendapatkan predikat: 1. Hasid (orang yang hasud), yaitu orang yang tidak senang melihat kesuksesan orang lain dan merasa puas ketika orang lain mendapat kecelakaan (penderitaan). Orang yang berbuat hasud akan mendapatkan kerugian berupa: • Dosa hasud itu akan kembali kepada dirinya sendiri. • Kebaikan orang yang berbuat hasud akan diberikan kepada orang yang dihasud (mahsud). 2. Matakabbir (orang yang sombong), yaitu orang yang merasa dirinya paling benar, sedangkan orang lain selalu salah. Allah berfirman: “maka inilah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong” (Q.S. Al-Mukmin: 76) 3. Qaswah al-qulub (keras hati), yaitu orang yang tidak mau menerima nasihat dari orang lain, jauh dari ulama dan ajaran agama. Oleh karena itu, jika ibadah kita ingin benar dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah, kita harus selalu berintrospeksi diri (ihtisab al-nafs), yaitu mengoreksi kesalahan sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain. Tentu, sekecil apapun kesalahan orang lain, maka ia akan selalu terlihat. Peribahasa mengatakan: “Kuman di seberang lautan tampak kelihatan, namun gajah di kelopak mata tidak kelihatan”.

Makna Ma'af yang Sebenarnya

Maaf dan memaafkan... kata yang memiliki banyak arti, baik menabur perdamaian maupun rekonsiliasi, yakni kesediaan hati untuk menerima kesalahan masa lalu dan siap menatap kemasa depan yang lebih cerah. Dua kata itu memang mudah diucapkan, namun terkadang berat jika dilaksanakan dengan penuh ketulusan. Secara filosofis, memaafkan berarti keinginan untuk hidup tanpa menegok ke belakang dan memupus kenangan saat kebencian dan dendam pernah membara. Memaafkan mempunyai implikasi besar. Melalui kekuatan memaafkan seseorang akan merasa terbebaskan dari beban masa lalu, sehingga mereka bisa bertindak tegas dalam masa kini. Memaafkan yang dimaksud bukan sekedar tindakan lahiriyah semata, tetapi juga komitmen batin untuk siap menerima dan tulus terhadap tindakan memaafkan tersebut. Seorang ahli telah menacatat bahwa dalam al-Qur’an telah ada 12 ayat yang membahas tetang memaafkan. Inilah bukti bahwa Islam selalu mengajarkan sikap memaafkan. Tindakan Rasul pun menjadi uswatun hasanah bagi umat yang ingin belajar sikap memaafkan. Bagi para muslim, perayaan idul fitri yang dianggap sebagai hari raya adalah juga merupakan perayaan yang memuat seruan untuk saling memaafkan. Artinya, hari bahagia itutidak sekedar dirayakan dengan berjabat tangan, namun ada satu tanggung jawab besar utnuk melupakan masa lalu dan siap melangkah untuk kebaikan masa depan. Apabila masa lalu dipenuhi dengan konflik dan dendam serta hubungan yang renggang dan persaudaraan yang terputus, maka dengan i’tikad saling memaafkan kita mulai menjadi momen untuk mengembalikan ikatan dan hubungan persaudaraan tersebut. Oleh karenanya, setiap manusia dituntut untuk mampu mengaktualisasikan makna memaafkan tersebut dalam lapangan sosial. Karena dengan kata maaf, seseorang berrati telah ikut bertanggung jawab dalam menjaga perdamaian dan menghindari adanya konflik. “Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah”. (Q.S.Asy-Syura : 40) Tunggu apa lagi,,, masihkah ada dendam dalam hati sehingga tak mau untuk saling berbagi dan saling memaafkan?? ^_^

Menilik Kesabaran dari Kisah Nabi Dzulkifli as.

Semuanya pasti tak asing dengan nama Nabi Dzulkifli, namun siapa sangka jika tenyata ada di antara kita ada yang tak tahu kisahnya? Apa yang dapat kita ambil dari kisah beliau?? Menilik dari Q.S.Al-Anbiyaa`: 85-86 dan Q.S.Shaad: 48, Yuk kita simak kisahnya... Nabi Dzulkifli adalah putra Nabi Ayyub yang pada asalnya bernama Basyar. Setelah diangkat menjadi Nabi dan Rosul, namanya menjadi Dzulkifli (yang berarti orang yang sanggup memegang janji). Dalam suatu riwayat, ada seoranga raja yang sudah berusia lanjut membuat sandiwara kepada seluruh rakyatnya, dengan isi sayembara: “Barangsiapa yang sanggup berpuasa pada waktu siang hari, dan malam harinya mlaksanakan shalat, maka ia dapat mengganti kedudukannya ssebagai raja. Dalam sayembara itu, tak satu pun di antara mereka yang sanggup melakukannya kecuali Nabi Dzulkifli. Karena berkat pertolongan Allah lah Nabi Dzulkifli berhasil memenangkan sayembara tersebut dan kemudin menjadi raja. Setelah Nabi Dzulkifli menjadi raja, maka diatur lah jam-jam tidurnya, artinya; jam sekian tidur, jam sekian mengurusi rakyat, dan jam sekian melaksanakan amanat atau janji yaitu berpuasa di siang hari, serta mengerjakan shalat di malam harinya. Hal itu dilaksanakan tiap hari. Pada suatu hari, Nabi Dzulkifli digoda oleh syaitan yang menyerupai manusia. Ia meminta agar Nabi menyelesaikan suatu perkara seketika itu juga, padahal beliaumasih berada di waktu jam tidur. Akhirnya perkara itu diserahkan oleh wakilnya, namun syaitan yang menyerupai manusia itu tidak mau, sebab dia menginginkan perkara itu diselesaikan oleh raja sendiri. Syaitan pun tidak pergi sampai pagi menyapa. Nabi Dzulkifli pun tidak marah dan masih tetap dalam kesabaran. Demikian juga ketika suatu ketika terjadi perang dengan orang-orang yang durhaka kepada Allah, maka Nabi Dzulkifli memerintahkan rakyatnya untuk berperang dan rakyatnya tidak mau melaksanakannya karena takut mati sehingga mereka meminta kepada Nabi Dzulkifli agar memintakan perlindungan kepada Allah agar tidak mati dalam berperang, dan mereka akan melaksanakannya. Setelah Nabi mendengar permintaan mereka, lalu beliau bedo’a kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui hingga akhirnya do’a tersebut dikabulkan karena Nabi Dzulkifli selalu memegang amanat atau janji.

Kisah Islamnya Bilal bin Rabbah

Siapa yang tak kenal Bilal Al-Habsyi, seorang sahabat yang masyhur? Ia muadzin tetap masjid Nabawi. Semula ia seorang budak milik seorang kafir, yaitu Umayyah bin Khalaf, kemudian ia memeluk Islam yang menyebabkannya banyak menerima berbagai siksaan. Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang snagt memusuhi Islam. Ia membaringkan Bilal di atas padang pasir di siang hari yang sangat panas di bawah terik matahari sambil meletakkan batu besar di dadanya, sehingga Bilal tidak bisa bergerak. Lalu dia berkata kepadanya: “Apakah kamu siap mati seperti ini atau tetap hidup dengan syarat kamu meninggalkan Islam?”. Dalm keadaan seperti itu, Bilal hanya berkata: “Ahad! Ahad! (hanya satu yang berhak disembah)” Malam hari, ia dirantai dan dicambuk terus-menerus sehingga badannya penuh luka. Esok harinya, denganluka itu ia dijemur kembali di padang pasir yang panas sehingga lukanya semakin parah. Tuannya berharap, ia akan meninggalkan Islam atau menggelepar mati. Orang yang menyiksa Bilal sampai keletihan, sehingga perlu bergantian. Kadang kala Abu jahal, Umayyah bin Khalaf, dan terkadang orang lain. Setiap orang berusaha meenyiksanya sekuat tenaga. Ketika Sayyidina Abu Bakar melihat penderitaan Bilal, dia membeli Bilal dan memerdekakannya. Orang-orang musyrik menjadikan berhala sebagai sesembahan, sedangkan islam mengajarkan tauhid. Inilah yang mnyebabkan lisan Bilal selalu terucap: “Ahad! Ahad!”. Hal itu karena hubungan dan cintanya yang tinggi terhadap Allah SWT. Dalam cinta dunia yang palsu pun, ketika kita melihat seseorang yang mencintai seseorang tentu akan merasa nikmat jika menyebut nama orang yang dicintainya. Kadang kala, tanpa tujuan yang jelas namanya akan disebut-sebut. Lalu, bagaimana dengan cinta kepada Allah SWT yang mendatangkan kesuksesan dunia akhirat? Karena cintanya kepada Allah, Bilal didera dengan segala siksaan. Ia diserahkan kepada anak–anak Makkah untuk diarak di lorong-lorong. Akan tetapi, dari bibirnya selalu terucap: “Ahad! Ahad!”. Dengan pengorbanannya itu, dia mendapat kehormatan sebagai muadzin Rasulullah, baik ketika tinggal di Madinah maupun dalam perjalanan. Setelah Nabi wafat, dia tinggal di Madina untuk beberapa lama. Akan tetapi, katrena melihatt Nabi sudah tidak ada di tempat, sulit baginya untuk terus tinggal di madinah. Oleh karena itu, ia berniat menghabiskan sisa hidupnya untuk berjihad di Syam. Dia pun berangkat berjihad dan beberapa lama tidak kembali ke Madinah. Suatu ketika ia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Belia bersabda: “Wahai Bilal, masihkah kamu setia kepadaku? Mengapa kamu tidak pernah menziarahiku?”. Begitu bangun, ia segera pergi ke Madinah. Setibanya di sana, Hasan dan Husain memintanya untuk mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan kedua cucu Nabi – orang yang sangat dicintainya itu. Dia pun mulai adzan. Tatkala suara adzan seperti pada masa hidup Rasulullah sampai di telinga penduduk Madinah, semua menjadi gempar. Para wanita pun menangis dan keluar dari rumah mereka. Setelah tinggal beberapa hari di Madinah, ia pun kembali ke Syam. Menjelang tahun 20 H, ia wafat di Damaskus.

Jumat, 11 Januari 2013

SHUHBAH (Pergaulan)

Pergaulan memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam membentuk kepribadian, akhlaq dan tingkah laku manusia. Seseorang akan mengambil sifat-sifat sahabatnya melalui keterpengaruhan spiritual yang membuatnya mengikuti tingkah laku sahabatnya itu. Manusia merupakan makhluk sosial yang harus bergaul dengan orang lain dan menjadikan sebagian di anatar mereka sebagai sahabat. Apabila dia memilih bergaul dengan orang-orang yang berperilaku jahat, fasiq dan rusak akhlaknya, maka sifat-sifatnya kan melenceng serta gradual tanpa disadarinya, sehingga dia menjadi bagian dari mereka dan terjerumus ke dalam jalan hidup mereka. Akan tetapi jika memilih untuk bergaul dengan ahli iman, taqwa, istiqamah dan ma’rifat kepada Allah, niscaya secara gradual dia akan dapat belajar dari mereka akhlak yang lurus, iman yang kokoh, sifat-sifat yang luhur dan ma’rifat kepada Allah. Dan dia akan terbebas dari noda-noda jiwa dan kotoran-kotoran akhlaknya. Oleh sebab itu, akhlak seseorang dapat diketahui dengan mengetahui para sahabat dan teman duduknya. Dalam buku yang berjudul Hakekat Tasawuf karya Syaikh ‘Abdul Qadir Isa seorang penyair sufi mengatakan: Jika engkau berada dalam suatu kaum Aka bergaullah dengan orang-orang yang terbaik, Janganlah bergaul dengan orang-orang tercela Sehingga engkau terjerumus ke dalam kehinaan, Janganlah engkau bertanya tentang seseorang Tapi bertanyalah tentang sahabatnya Sebab, setiap orang akan mengikuti sahabatnya Bergaul dengan orang-orang baik itu masuk dalam poin pertama dalam wasiat sahabat Ustman bin Affan. Yuk, kita intip massage dari sahabat tersebut, yang mana dijelaskan 4 hal yang sisi luarnya merupakan keutamaan, dan sisi dalamnya merupakan kewajiban: 1) Bergaul dengan orang-orang baik itu keutamaan, sedangkan mengikuti jejaknya merupakan kewajiban. 2) Membaca Al-Qur’an adalah keutamaan, sedangkan melaksanakan isinya merupakan kewajiban. 3) Ziarah kubur itu merupakan keutamaan, sedangkan mempersiapkan diri menuju kubur itu merupakan kewajiban. 4) Menjenguk orang sakit adalah keutamaan, sedangkan melaksanakan wasiatnya adalah kewajiban.

Menggenggam Waktu Meraih Prestasi

“Fa izhaa faraghta fanshab. Wa ilaa Rabbika farghab.!”(Q.S. Al-Insyirah: 7-8) Apakah yang menjadi resep yang teramat jitu para Sahabat Nabi yang menjadi bala tentara Islam ketika itu, sehingga mereka mampu menaklukkan dua imperium adidaya Romawi dan Persia? Bukankah kedua imperiam itu sudah sangat dikenal dalam sejarah, bala tentaranya amat kuat dan perkaa, baik dari segi jumlah, profesionalitas, strategi, maupun dukungan dananya? Rahasianya ternyata tersimpul dari pengakuan penuh kekaguman seorang anggota dinas intelijen Romawi, setelah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah. Kepada Kaisar Romawi ia mengutarakan kesannya tentang watak kaum Muslimin. “Ruhbaanun billaili, firsaanun binnahar”, ungkapnya dengan penuh kekaguman. Yaaa, mereka kaum Muslimin itu kalau malam, tidak ubahnya seperti rahib, adapun tatkala siang menjelang, mereka bagaikan singa yang garang. Betapa tidak! Umat Islam ketika itu mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang sangat luar biasa, sehingga menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa pula. Bagi hamba Allah yang unggul dalam hal ibadah kepada Allah, di dalam kalbunya telah tertanam keyakinan yang amat dahsyat bahwa Allah itu Maha Dekat. “Wa idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qariib. Ujiibu da’watad-daa’I idzaa da’aan” (Q.S. Al-Baqarah: 186). Yang menjadi pertanyaan sekarang, “bagaimana caranya untuk menjadi sosok pribadi Muslim yang unggul?”. Salah satu kunci utamanya adalah kemampuan untuk ‘menggenggam’ waktu. Islam merupakan agama yang paling dominant mengingatkan para pemeluknya terhadap sang waktu. Allah sendiri telah berkali-kali ‘bersumpah’ dalam Al-Qur’an: “wal’ashri innal insaana lafii khusrin” (Q.S. al-‘Ashr: 1-2). “Wadldluhaa. Wallayli idzaa sajaa” (Q.S. Adl- Dluhaa: 1-2). “Wallayli idzaa yaghsyaa. Wannahaari idzaa tajallaa” (Q.S. Al- Layl: 1-2). Allah pun telah mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu -minimal lima kali- dalam sehari semalam, yakni waktu Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan ‘Isya. Belum lagi tahajud pada sepertiga akhir malam dan shalat Dluha ketika matahari terbit sepenggalah. Allah mengingatkan hamba-Nya untuk selalu terkontrol dengan waktu yang ada. Oleh sebab itu, bagi siapapun yang gemar menganggap remeh waktu, tampaknya tidaklah perlu bercita-cita setinggi langit. Ini karena kunci keunggulan seseorang itu justru terletak pada bagaimana ia mampu memanfaatkan waktu secara lebih baik daripada yang dimanfaatkan orang lain. Barang siapa yang selalu ‘thamak’ dalam setiap waktu yang dilaluinya dengan upaya meningkatkan kemampuan diri, niscaya tidak usah heran kalau Allah akan memberikan yang terbaik bagi si pelakunya. Insya Allaah. Sesungguhnya, yang terpenting itu bukan hanya keinginan, melainkan kemampuan untuk menggapainya. Itulah yang menjadi jawaban terbaik dalam mengarungi kehidupan ini.

Mengoptimalkan Potensi Akal

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-siia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Ali Imran: 190-191) Rasulullah setiap menjelang Shubuh selalu membaca ayat tersebut, hingga berlinang air matanya. Kalau kita belajar dari peradaban barat, mereka cepat untuk belajar. Perbandingan antara barat dan kita adalah mereka membaca untuk belajar, sedangkan kita belajar untuk membaca. (semoga semua menyadarinya, hehe…) Seperti ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi “Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq”. Inilah perintah yang pertama, yaitu “membaca”. Ini sama seperti menyuruh kita untuk mengaktifkan elemen-elemen akal kita. Kebanyakan dari kita malas untuk mebaca. Sementara membaca adalah pangkal dari penerapan akal kita agar bias berjalan secara optimal dan menghasilkan wawasan yang luas. Akibat dari malas membaca adalah kurang ilmu, sementara membaca adalah jendelanya ilmu. Maka, jika ingin luas wawasannya, harus selalu rajin membaca. “Tiada hari tanpa membaca”.Selain membaca,ada cara yang lain untuk mengembangkan akal kita, yaitu menyimak. Dengan mendengarkan, menyimak, memahami, kita telah mendapatkan ilmu juga. Mendengarkan, memperhatikan gerak-gerik, tutur kata orang lain itu bisa dijadikan ilmu buat kita. Setelah membaca dan menyimak, bergaul pun bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan akal karunia Allah. Bergaul dengan orang pintar, akan mempengaruhi kita juga, karena wawasan setiap orang tergantung pada pergaulannya. Kalau saja kita mau terus menerus mengerahkan kemampuan pikiran kita, niscaya hidup ini tidak sesulit yang kita duga. Banyak sekali jalan keluar yang telah disiapkan Allah atas apa pun yang kita hadapi. Sayangnya, sebagian besar orang tidak mau berpikir dengan baik. Sebagian ahli mengatakan bahwa manusia memiliki kemalasan untuk berpikir. Bahkan dating suatu masalah, ia cenderung untuk mengambil jalan pintas yang gampang untuk menghindar. Padahal, otak ini tak ubahnya seperti pisau. Semakin diasah, akan semakin tajam. Jika sudah tajam, niscaya bisa memotong bahan yang sangat keras sekalipun. Semakin tajam akal pikiran, maka kita akan semakin mapu menerjemah apapun yang terkandung di balik kejadian hiup ini. Dan Alhamdulillah, saat ini kita masih diberi kesehatan, kekuatan oleh Allah untuk dapat selalu mengisi ruhani kita, sehingga kita bisa dengan rajin mendatangi majlis ta’lim, bahkan mengakaji kitabullah. Akan tetapi, itu saja tidak cukup, karena ada satu perangkat lain yang juga harus diberi “makan”. Dialah akal pikiran. Banyak berdzikir tanpa disertai dengan banyak berpikir, bisa membuat kita memahami kebenaran hanya sepihak saja. Kalau kita bertanya tentang bagaimana mengenal Allah, maka Dia telah menyiapkan kita perangkat Bantu untuk mengenal-Nya, yaitu dengan akal pikiran yang kita miliki. Begitu bertaburan di dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang mempertanyakan seberapa mampu kita menggunakan akal pikiran… “afalaa tatafakkaruun? Afalaa yatafakkaruun?” Wallaahu a’lam.

Secantik Bidadari

Siapa sich yang tidak mau dirinya menjadi secantik Bidadari? Hemm… Yuk kita simak bareng sebuah hadiah dan tips yang nantinya akan menambah kecantikan antum, bahkan memberikan kecantikan abadi  Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata bahwa dia telah bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah (Q.S. Al- Waaqi’ah [56]: 22): “chuurun ‘iin” (bidadari-bidadari bermata jeli), maka beliau menjawab: “chuur artunya berkulit putih, sedangkan ‘iinĂ­ artinya bermata jeli.” Lalu aku berkata lagi: “Beri tahukan kepadaku tentang firman Allah (Q.S. Al- Waaqi’ah [56]: 23): “Ka amtsaalil lu’lu-il maknuun” (laksana mutiara yang tersimpan baik)”. Beliau menjawab: “jernih bak mutiara yang berada di dalam kerangnya yang belum pernah tersentuh oleh tangan manusia.” Aku berkata lagi: “Beri tahukan kepadaku tentang firman Allah (Q.S. Ar- Rahmaan [55]: 70): “fiihinna khayraatun chisaan” (Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik, lagi cantik-cantik). Beliau menjawab: “Baik akhlaqnya dan cantik wajahnya. Aku berkata: “beri tahukan kepadaku tentang firman Allah (Q.S. ash- Shaffaat [37]: 49): “ka annahunna daidlum maknuun” (seakan-akan mereka telur [burung unta] yang tersimpan dengan baik).” Beliau menjawab: “kelembutanyya seperti lembutnya kulit ari yang engkau lihat melapisi telur tepat di bawah kulit luarnya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, antara wanita dunia dengan bidadari surga?”. Beliau menjawab: “Bahkan wanita dunia lebih utana daripada Bidadari surga, seperti keutamaan bagian luar atas bagian dalam.” Aku bertanya: “Hal itu bisa terjadi dengan hal apa?”. Beliau menjawab: “Berkat shalat, puasa, dan ibadah mereka. Allah menjadikan wajah mereka bercahaya, dan memakaikan tubuh mereka dengan kain sutra; kulit mereka berwarna putih bersih; pakaian mereka berwarna hijau; perhiasan mereka berwarna kuning; tempat pendupaan mereka adalah mutiara; dan sisir mereka adalah emas. Mereka berkata: ‘Kami adalah wanita-wanita abadi yang tidak akan mati selamanya. Kami adalah wanita –wanita yang berbahagia, yang tidak akan mengalami kesusahan selamanya. Kami aalah wanita-wanita yang tetap berada di tempat tinggal dan tidak akan pernah keluar rumah selamanya. Kami adalah wanita-wanita yang selalu ridla dan tidak akan pernah marah selamanya, maka berbahagialah orang yang kami menjadi miliknya dan dia menjadi milik kami.” (H.R. Thabrani) Hati dalam diri wanita laksana bunga yang memancarkan cinta dan memberikan perasaan lembut, serta kecantikan. Di dalamnya terdapat lembaran putih yang merupakan lambang kesucian dan kemurnian yang akan memberikan cinta kepada dunia. Inilah awal petualangan kita menuju kecantikan. Di sini kita telah sepakat bahwa kecantikan jiwa dan hati merupakan pokok dari segala kecantikan. Sekarang, kita harus mencoba mengenal lebih jauh hati setiap wanita yang sangat dibutuhkan oleh dunia yang ‘keras’ di sekitar kita untuk menyebarkan kecantikan. Taukan antum, apa yang dinamakan hati? Yaa.., “ia dinamakan hati karena seringnya membolak-balik (tidak tetap pada pendiriannya). Perumpamaan hati adalah seperti bulu ayam yang tergantung pada sebuah pohon, yang dibolak-balikkan oleh terpaan angin, sehingga terlihat bagian luar dan dalamnya secara bergantian”. (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad Hadits no. 18830) Jaga diri baik-baik Wahai Muslimah nan jelita… “Barangsiapa yang berusaha menjaga kesucian dirinya, maka Allah akan menjaga kesuciannya”. Don’t forget, selalu berbuat baik pada semuanya, karena “Sesungguhnya kebaikan itu akan membuat wajah bersinar; hati bercahaya; rizqi menjadi lapang; fisik menjadi kuat; dan orang lain menjadi senang”, (Ngutip kata dari ‘Abdullah bin ‘Abbas). Yang perlu kita ketahui, bahwa akhwat sejati bukan hanya dilihat dari besarnya jilbab yang dipakai, tapi dari besarnya semangat dalam menuntut ilmu. Bukan hanya dilihat dari tertutup rapat tubuhnya, namun dari ketulusan menutupi dirinya dari ma’siat. Bukan dilihat dari lembut suaranya, tapi juga dari semangatnya yang selalu tunduk pada syari’at Allah. Yuck, kita buat para Bidadari surga menjadi ‘iri’ dengan kita semua. Tetap semangat ya Saudari-saudariku sekalian… Allah Ma’anaa… Semoga Bermanfa’at 